Belanja modal TOWR diperkirakan meningkat pada 2026 karena sebagian relokasi BTS belum terealisasi. Manajemen menegaskan, sejauh ini tidak ada pembatalan pesanan dari XLS.
Dari sisi kinerja, Indo Premier memproyeksikan EBITDA agregat sektor menara pada kuartal IV-2025 mencapai Rp6,3 triliun (+4 persen qoq), sehingga EBITDA tahun fiskal 2025 diperkirakan mencapai Rp24,6 triliun (+2 persen yoy), sejalan dengan konsensus.
Pertumbuhan EBITDA sektor pada 2026 diprediksi tetap moderat, sekitar +2 persen yoy, didorong MTEL (+4 persen yoy) dan TOWR (+2 persen yoy), sementara PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) berpotensi turun 1 persen yoy akibat relokasi XLS.
Laba bersih sektor diperkirakan naik 7 persen yoy, dengan MTEL mencatat pertumbuhan tertinggi, diikuti TOWR. TBIG kemungkinan masih mengalami penurunan.
Potensi pertumbuhan tambahan datang dari FWA.
Dua pemegang lisensi spektrum, Grup Sinarmas melalui MyRepublic dan PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) via Internet Rakyat, diperkirakan membutuhkan hingga 8.000 menara baru (sekitar 5.500 untuk WIFI dan 2.500 untuk MyRepublic).