Kondisi ini menunjukkan meningkatnya tekanan terhadap kemampuan pembayaran di sektor properti.
Sucor Sekuritas mencatat sekitar 70 persen hingga 80 persen penjualan properti primer masih bergantung pada pembiayaan KPR.
Dengan suku bunga yang lebih tinggi dan standar kredit bank yang semakin ketat, likuiditas konsumen menjadi lebih terbatas sehingga peluang pemulihan permintaan dalam waktu dekat ikut berkurang.
Sucor Sekuritas memangkas proyeksi laba 2026-2027 terutama untuk pengembang yang lebih sensitif terhadap permintaan dan memiliki leverage tinggi seperti PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), dan PT Ciputra Development Tbk (CTRA).
Sementara revisi terhadap emiten berbasis aset kuat seperti PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) dan PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) relatif lebih terbatas.