SMSM itu juga mampu menjaga profitabilitas di tengah tantangan industri otomotif. Laba kotor naik 3,3 persen menjadi Rp1,98 triliun dengan laba usaha mencapai Rp1,50 triliun, tumbuh 9,3 persen. Margin laba bruto, laba usaha, dan laba bersih masing-masing mencapai 37 persen, 28 persen, dan 21 persen.
Manajemen SMSM menyatakan, perseroan menghadapi tantangan baik dari dinamika perdagangan global, perubahan pola permintaan pasar, hingga meningkatnya persaingan di industri otomotif. Sejumlah faktor seperti kebijakan tarif global hingga lonjakan impor truk CBU (Completely Built Up) menekan segmen karoseri SMSM.
Dalam menghadapi dinamika tersebut, perseroan berkomitmen memperkuat fundamental bisnis melalui pengelolaan biaya, efisiensi secara berkelanjutan, alokasi modal yang pruden, serta diversifikasi pasar ekspor.
"Didukung oleh penerapan tata kelola perusahaan yang kuat, rantai pasok yang tangguh, serta komitmen jangka panjang terhadap praktik bisnis yang berkelanjutan, perseroan terus memperkuat ketahanan usahanya sekaligus menciptakan nilai jangka panjang dan Total Shareholders Return yang berkelanjutan bagi para pemegang saham," katanya melalui keterangan resmi dikutip Selasa (17/3/2026).
Memasuki tahun 2026, dinamika geopolitik terkait perang antara Iran dan AS juga menjadi tantangan bagi perseroan. Namun, SMSM tetap memandang prospek usaha secara konstruktif.