AALI
8250
ABBA
214
ABDA
6025
ABMM
3960
ACES
610
ACST
176
ACST-R
0
ADES
7175
ADHI
715
ADMF
8300
ADMG
167
ADRO
3960
AGAR
292
AGII
2350
AGRO
550
AGRO-R
0
AGRS
90
AHAP
85
AIMS
242
AIMS-W
0
AISA
164
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1635
AKRA
1350
AKSI
316
ALDO
655
ALKA
290
ALMI
392
ALTO
181
Market Watch
Last updated : 2022/09/30 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
534.58
0.21%
+1.10
IHSG
7040.80
0.07%
+4.60
LQ45
1011.48
0.24%
+2.44
HSI
17222.83
0.33%
+56.96
N225
25937.21
-1.84%
-484.84
NYSE
13608.29
-1.63%
-224.91
Kurs
HKD/IDR 1,939
USD/IDR 15,260
Emas
819,860 / gram

Siap Ekspansi, Itama Ranoraya (IRRA) Yakin Kinerja Keuangan Kembali Positif

MARKET NEWS
Tim IDXChannel
Kamis, 22 September 2022 10:14 WIB
IRRA juga telah bekerjasama dengan sejumlah perusahaan alat kesehatan terkemuka, seperti dengan PT Medtronic Indonesia.
Siap Ekspansi, Itama Ranoraya (IRRA) Yakin Kinerja Keuangan Kembali Positif (foto: MNC Media)
Siap Ekspansi, Itama Ranoraya (IRRA) Yakin Kinerja Keuangan Kembali Positif (foto: MNC Media)

IDXChannel - PT Itama Ranoraya Tbk (IRRA) mengaku yakin dapat melanjutkan tren positif kinerja keuangannya pada tahun ini. Tren tersebut telah berhasil dijaga dalam beberapa tahun terakhir, dan optimistis dapat dilanjutkan di sepanjang tahun 2022 ini.

Keyakinan tersebut didasarkan pada sejumlah eksi ekspansi yang telah disiapkan perusahaan. Salah satunya rencana akuisisi di sektor non organik pada triwulan IV-2022, yang kini sedang dalam proses perizinan di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

"Jika izin ini sudah kita dapat, maka (akuisisi) bisa diselesaikan di Desember 2022," tulis manajemen IRRA, dalam keterangan resminya, Rabu (21/9/2022).

Selain itu, IRRA juga telah bekerjasama dengan sejumlah perusahaan alat kesehatan terkemuka, seperti dengan PT Medtronic Indonesia, yang merupakan produsen produk medis berteknologi dan beroperasi di lebih dari 150 negara lintas dunia. Kerjasama disepakati dalam hal pemasaran dan promosi produk milik Medtronic oleh IRRA di pasar wilayah Indonesia.

“Produk yang dipasarkan berupa mesin diatermi generasi terbaru yang penggunaannya mencakup seluruh spesialisasi bedah seperti bedah ginekologi, bedah digestive (saluran cerna), bariatric (obesitas), bedah umum, bedah urologi, bedah THT dan bedah jantung,” tulis manajemen.

Keyakinan perusahaan, disebutkan, juga didasarkan pada potensi pasar alat kesehatan (alkes) di Indonesia yang diklaim masih menjanjikan. Hal ini seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kualitas kesehatan dan bertambahnya jumlah fasilitas layanan kesehatan di Indonesia.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pada 2021, jumlah rumah sakit di Indonesia mencapai 3.112 unit dan puskesmas sebanyak 10.260 unit. Jumlah tersebut belum ditambah dengan ribuan klinik yang berada di seluruh pelosok negeri.

Pertumbuhan jumlah rumah sakit pada 2021 dilaporkan mencapai 5,17 persen dibandingkan jumlah di 2020 (year on year/YoY). Tren pertumbuhan diperkirakan masih berlanjut untuk 2022 dan berimbas pada permintaan alat kesehatan yang diyakini juga bakal meningkat signifikan.

Tercatat hingga Juli 2022, data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menunjukkan bahwa jenis produk alat kesehatan dari luar negeri yang beredar di Indonesia mencapai 154.041 atau sekitar 87,3 %. Sedangkan jenis alkes dari produk lokal yang beredar hanya 22.422 atau 12,7 %.

Sementara itu data yang disajikan Sekretariat Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes RI memperlihatkan pertumbuhan sarana produksi alat kesehatan yang terus meningkat, yakni dari 193 perusahaan pada 2015 menjadi 891 perusahaan pada 2021. Dan dalam lima tahun terakhir, industri manufaktur alat kesehatan dalam negeri tumbuh sebanyak 698 industri atau meningkat 361,66%.

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menyebutkan, saat ini pengeluaran per kapita (expenditure per capita) per tahun Indonesia untuk bidang kesehatan sebesar US$ 112 atau setara Rp1.568.000. Dalam lima tahun ke depan, angka ini diperkirakan naik minimal sampai ke angka pengeluaran per kapita Malaysia tahun ini sebesar US$ 432 atau setara Rp6.048.000 per tahunnya.

Nilai pasar alat kesehatan di Indonesia sendiri telah tumbuh dari sekitar Rp65 triliun pada 2016 menjadi Rp85 triliun 2020, dan melonjak lagi menjadi sekitar Rp94 triliun pada 2021. Melihat trennya maka pertumbuhan itu bakal terus berlanjut untuk 2022.

Berdasar catatan BPS, produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga konstan (ADHK) industri kimia, farmasi dan obat tradisional mencapai Rp 59,88 triliun pada kuartal I-2022. PDB industri tersebut tumbuh 6,47 persen dibandingkan pada periode yang sama tahun sebelumnya (YoY).

“Melihat data-data yang menunjukkan pertumbuhan pada sektor alat kesehatan, mendorong PT Itama Ranoraya untuk terus berkomitmen meningkatkan penjualan produknya,” tegas manajemen. (TSA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD