Bagi sektor perbankan, lonjakan harga minyak berpotensi menekan aktivitas ekonomi, yang pada akhirnya dapat mengurangi permintaan kredit. Selain itu, risiko pemburukan kualitas aset juga meningkat, sehingga mendorong kenaikan biaya pencadangan atau provisioning.
Sementara itu, sektor konsumer menghadapi tekanan ganda. Di satu sisi, kenaikan harga minyak dapat meningkatkan biaya bahan baku yang memiliki korelasi positif dengan energi. Di sisi lain, daya beli masyarakat berpotensi melemah, yang berdampak pada penurunan volume penjualan.
Meski demikian, dari perspektif jangka panjang, valuasi saham-saham perbankan dan konsumer masih berada di level yang relatif menarik secara historis. Dengan asumsi fundamental perusahaan tetap terjaga, risiko dari kenaikan harga minyak dinilai masih dapat dikelola.
"Selama investor masih memiliki keyakinan pada prospek jangka panjang perseroan, kami menilai risiko di atas masih manageable," tulis Stockbit.
Sebaliknya, bagi investor dengan pendekatan jangka pendek atau taktis, skenario harga minyak yang bertahan tinggi berpotensi memicu revisi turun terhadap estimasi laba. Hal ini dapat menjadi katalis negatif bagi pergerakan harga saham dalam jangka pendek.
(DESI ANGRIANI)