Persoalan ini membuat transisi pengendalian saham terhambat. Meski begitu, jajaran manajemen dan komisaris perseroan sudah diisi oleh perwakilan dari investor baru, yakni Agus Suhada sebagai Direktur Utama dan Antonius Bobby Siswanto sebagai Komisaris Utama.
Tak hanya itu, model bisnis TGUK juga sudah berubah di tengah outlet minuman Teguk yang tersisa 20 gerai. Pada kuartal I-2026, pendapatan perseroan menembus Rp200 miliar setelah berbisnis daging.
Manajemen TGUK menyebut, kinerja perseroan sejak IPO terus tertekan dan merugi pada 2024 dan 2025. Oleh karena itu, fokus utama perseroan saat ini adalah bagaimana memperkuat struktur keuangan, meningkatkan kinerja operasional, serta mendiversifikasi sumber pendapatan baru.
Perseroan menyebut, segmen daging sapi mulai memberikan kontribusi positif terhadap kinerja perseroan. Meski memiliki margin lebih tipis dibandingkan F&B, karakter bisnisnya yang memiliki volume pasar dan permintaan yang stabil dan besar, berpotensi menjadi sumber pendapatan yang berkelanjutan dan mendukung perbaikan profitabilitas ke depan.
Selain itu, perseroan juga mulai mengembangkan konsep bisnis baru melalui pembukaan Toko Daging Platinum yang rencananya dibuka tiga gerai untuk tahap awal.