IDXChannel - Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Selasa (4/8/2026). Mata uang Garuda melemah 30 poin atau 0,17 persen ke level Rp18.027 per USD.
Pengamat Pasar Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai sentimen dari dalam negeri memengaruhi pergerakan rupiah hari ini, di mana sebelumnya Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2026 defisit USD450 juta.
“Defisit pada Juni 2026 terutama disebabkan oleh defisit pada komoditas migas, yaitu defisit sebesar USD3,49 miliar dengan komoditas utama penyumbang defisit pada migas yaitu hasil minyak dan juga minyak mentah. Defisit terjadi karena kinerja ekspor yang tercatat USD25,46 miliar lebih rendah dibandingkan impor yang tercatat sebesar USD25,91 miliar per Juni 2026,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Sementara itu, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2026 turun ke level USD145 miliar. Turunnya cadangan devisa disebabkan oleh keperluan stabilitas nilai tukar rupiah dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Posisi cadangan devisa ini turun dari posisi tertingginya, yakni USD156,5 miliar pada akhir Desember 2025. Ini artinya cadangan devisa RI telah turun hingga mencapai USD11 miliar. Namun, level USD145 miliar dinilai masih aman dan mencukupi untuk kebutuhan 5,4 kali impor. Sementara itu, batasan yang menjadi benchmark internasional adalah kecukupan cadangan devisa untuk 3 bulan impor dan pembayaran utang.