sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Tekanan Global Masih Jadi Pemicu Pelemahan IHSG hingga Rupiah Tembus USD17.000 per USD

Market news editor Anggie Ariesta
07/04/2026 15:26 WIB
Menurut Rully, IHSG sempat terkoreksi dan ditutup di bawah level 7.000, mencerminkan sentimen risk-off yang masih dominan.
Tekanan Global Masih Jadi Pemicu Pelemahan IHSG hingga Rupiah Tembus USD17.000 per USD. Foto: iNews Media Group.
Tekanan Global Masih Jadi Pemicu Pelemahan IHSG hingga Rupiah Tembus USD17.000 per USD. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) disertai rupiah yang berada di atas level Rp17.000 per USD karena meningkatnya tekanan fiskal di tengah sentimen global yang masih bergejolak.

Menurut Rully, IHSG sempat terkoreksi dan ditutup di bawah level 7.000, mencerminkan sentimen risk-off yang masih dominan.

"Pelemahan IHSG yang sempat turun di bawah level 7.000, bersamaan dengan rupiah yang bertahan di atas Rp17.000, mencerminkan meningkatnya sentimen risk-off di pasar domestik. Dalam kondisi ini, ruang stabilisasi menjadi semakin terbatas, terutama di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi,” ujar Rully dalam keterangan resmi, Selasa (7/4/2026).

Rully menambahkan, dengan pergerakan rupiah di atas level tersebut, di tengah indeks dolar yang relatif stabil, mengindikasikan Bank Indonesia mulai memberi ruang penyesuaian yang lebih besar setelah periode intervensi yang cukup agresif.

"Dengan IHSG yang telah terkoreksi hingga 6.917 dan rupiah di atas Rp17.000 per USD, kami melihat tekanan pasar masih berpotensi berlanjut, terutama jika arus keluar dana asing meningkat ke kisaran Rp500 miliar hingga Rp1 triliun per hari dalam jangka pendek," kata Rully.

Ke depan, tekanan diperkirakan masih berlanjut seiring eskalasi geopolitik dan kenaikan harga minyak, yang umumnya memberi tekanan pada mata uang negara net importir seperti Indonesia. 

Di sisi fiskal, kebijakan pemerintah menahan harga BBM untuk menjaga daya beli turut mendorong defisit APBN hingga Maret 2026 mencapai Rp240,1 triliun atau 0,9 persen PDB, meningkat dari 0,4 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.

“Upaya menjaga stabilitas tetap penting, namun konsekuensinya adalah meningkatnya tekanan terhadap fiskal dan cadangan devisa,” kata Rully.

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement