Dalam surat tersebut, Perseroan menyebut MTO sebagai bagian dari keseluruhan proses pengambilalihan yang sebelumnya telah disampaikan kepada publik dan mengalami penundaan pada 2025.
Menurut Agus, proses korporasi tersebut berjalan bersamaan dengan penguatan bisnis yang tengah dilakukan Perseroan.
“Bagi kami, proses korporasi dan pengembangan bisnis merupakan dua hal yang berjalan beriringan. Karena itu, selain memastikan setiap tahapan MTO berjalan sesuai ketentuan, kami juga terus memperkuat bisnis yang saat ini telah memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan Perseroan,” katanya.
Perkembangan tersebut terlihat dari perubahan struktur pendapatan TGUK setelah Perseroan mulai mengoperasikan bisnis perdagangan daging beku pada akhir 2025.
Pada kuartal I 2026, perdagangan daging menyumbang sekitar Rp200,7 miliar atau 99,6 persen dari total pendapatan TGUK. Sementara lini makanan dan minuman memberikan kontribusi 0,4 persen.
Bisnis tersebut berfokus pada perdagangan dan distribusi frozen meat, dengan pengelolaan rantai pasok, ketersediaan produk, cold chain, jaringan pemasok, serta jaringan distribusi sebagai bagian dari pengembangan operasionalnya.
TGUK juga menyiapkan pengembangan jaringan distribusi dan basis pelanggan serta konsep Toko Daging Platinum yang mengintegrasikan perdagangan daging beku, frozen processed food, dan bisnis makanan dan minuman. Strategi tersebut diarahkan untuk menjadikan bisnis perdagangan daging sebagai salah satu pilar utama pendapatan dan profitabilitas Perseroan.
Penguatan bisnis tersebut mulai tercermin pada kinerja keuangan semester I 2026. TGUK membukukan penjualan Rp327,35 miliar dan laba bersih Rp2,50 miliar, berbalik dari rugi bersih Rp8,44 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Agus mengatakan perbaikan kinerja tersebut menjadi bagian dari fokus Perseroan dalam menjalankan fase pengembangan bisnis secara berkelanjutan.