Menurutnya, risiko makro kini semakin serius, tercermin dari imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun yang telah menembus lebih dari 5,2 persen, level tertinggi sejak 2007.
Tekanan terhadap pasar obligasi juga datang dari besarnya pasokan Treasury, ketidakpastian perdagangan, pertumbuhan ekonomi yang masih bertahan, serta kenaikan harga minyak.
Kondisi tersebut membuka kemungkinan The Fed kembali memperketat kebijakan apabila tekanan inflasi dan data ketenagakerjaan AS tetap kuat.
Arief memperingatkan, pengetatan agresif The Fed dapat merembet ke Indonesia melalui kenaikan imbal hasil domestik dan tekanan terhadap pasar saham.
Risiko tersebut menjadi lebih besar karena Indeks Harga Saham Gabungan IHSG) sendiri telah mengalami tekanan signifikan hingga minus 30 persen sepanjang tahun berjalan.