sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Tumbuh di Atas Ekspektasi, Saham Perbankan Jadi Sasaran Rekomendasi Beli

Market news editor Taufan Sukma Abdi Putra
19/02/2026 20:17 WIB
Bank Mandiri (BMRI) menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 7-9 persen (yoy), NIM sebesar 4,6-4,8 persen, CoC sebesar 0,6-0,8 persen, dan CIR sebesar 42-43 perse
Tumbuh di Atas Ekspektasi, Saham Perbankan Jadi Sasaran Rekomendasi Beli (foto: iNews Media Group)
Tumbuh di Atas Ekspektasi, Saham Perbankan Jadi Sasaran Rekomendasi Beli (foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Sejumlah analis dari beragam sekuritas mengapresiasi kinerja sektor perbankan di sepanjang 2025 lalu.

Hal ini tak lepas dari kinerha sejumlah bank yang mampu tumbuh positif, bahkan melebihi ekspektasi yang tercermin dari konsensus analis.

Misalnya saja PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang membukukan laba bersih sebesar Rp18,6 triliun pada triwulan IV-2025 (4Q25), melonjak sebesar 40 persen secara triwulanan (quarter on quarter/QoQ), atau 35 persen secara tahunan (year on year/YoY0.

"Perolehan (laba bersih) ini sejalan dengan estimasi kami, bahkan lebih tinggi dari konsensus masing-masing, yang sebesar 101 persen dan 110 persen," tulis Analis Analis MNC Sekuritas, Victoria Venny, dalam risetnya, yang dipublikasikan, pekan ini.

Sedangkan dalamn hal margin bunga bersih (net interest margin/NIM) sepanjang 2025, BMRI mampu membukukan 4,9 persen, turun 26 bps (yoy). Hal itu terutama disebabkan oleh penurunan yield kredit, yang sebagian diimbangi oleh penurunan biaya dana (cost of fund/CoF).

"Kualitas aset BMRI tetap solid dengan non-performing loan (NPL) sebesar 1,1 persen dan loan at risk (LAR) sebesar 6,5 persen," ujar Victoria.

Di lain pihak, kredit BMRI juga tumbuh 13 persen (yoy) atau tujuh persen (qoq). Pertumbuhan dipimpin oleh segmen kredit korporasi yang meningkat 23 persen (yoy) dan kredit komersial yang tumbuh 12 persen (yoy).

Dana pihak ketiga (DPK) juga tumbuh kuat, dipimpin oleh current account saving account (CASA) yang naik 12,6 persen yoy menjadi Rp1.431 triliun. Loan to deposit ratio (LDR) tetap terjaga dengan baik sekitar 89 persen.

Tahun ini, Bank Mandiri (BMRI) menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 7-9 persen (yoy), NIM sebesar 4,6-4,8 persen, CoC sebesar 0,6-0,8 persen, dan CIR sebesar 42-43 persen.

Sementara, analis Indo Premier Sekuritas, Jovent Muliadi dan Axel Azriel dalam risetnya memperkirakan laba BMRI pada 2026 bakal didorong oleh pendapatan non-bunga. Itu terutama dari peningkatan fee berbasis platform digital, seiring rencana monetisasi aplikasi Livin’ secara lebih agresif tahun ini.

Selain itu, opex diperkirakan relatif datar atau bahkan menurun, setelah adanya penyesuaian satu kali (one-off) pada 2025. Secara konservatif, opex BMRI diprediksi hanya naik tiga persen (yoy), sehingga cost to income ratio (CIR) berpotensi turun menjadi 44 persen pada 2026 dibandingkan 2025 yang mencapai 46 persen.

"Secara keseluruhan, kami memproyeksikan pertumbuhan laba BMRI sekitar enam persen pada 2026 menjadi Rp58,7 triliun atau 6,3 persen di atas konsensus yang sebesar Rp55,2 triliun," ujar Jovent.

Tak hanya BMRI, Indo Jovent juga mencermati capaian kinerja dari PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), yang tak kalah moncer. Karenanya, Indo Premier Sekuritas tak ragu untuk menetapkan BMRI dan juga BBNI sebagai saham pilihan utama di sektor perbankan.

Indo Premier Sekuritas merekomendasikan buy saham BMRI dengan target harga tinggi Rp6.400. Valuasi BMRI dinilai menarik, dengan P/B mencapai 1,4 kali dan P/E sebesar 8,1 kali dibandingkan rata-rata 10 tahun yang masing-masing 1,6 kali dan 11,6 kali.

Senada, MNC Sekuritas juga merekomendasikan buy saham BMRI dengan target harga Rp6.050. Target harga tersebut mencerminkan estimasi P/B 2026 dan 2027 masing-masing sebesar 1,8 kali dan 1,7 kali.

Penguatan profitabilitas BMRI juga berasal dari diversifikasi sumber pendapatan. Sepanjang 2025, pendapatan non-bunga meningkat 14,5 persen yoy menjadi Rp48,5 triliun, didorong oleh peningkatan aktivitas transaksi nasabah dan pemanfaatan layanan berbasis ekosistem, yang menjaga ketahanan fundamental secara jangka panjang.

Menurut kata Direktur Utama Bank Mandiri (BMRI), Riduan, pihaknya memang berkomitmen untuk menjaga posisi pengelolaan kualitas aset, likuiditas, dan profitabilitas secara disiplin dan terukur, sebagai fondasi utama pertumbuhan jangka panjang.

BMRI juga menanggapi penilaian Moody's yang memberikan outlook negatif kepada lima bank besar di Indonesia, termasuk Perseroan, dari sebelumnya stabil.

Menurut Corporate Secretary BMRI, Adhika Vista, penilaian eksternal terhadap sektor perbankan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk juga dinamika makro ekonomi, pergerakan nilai tukar, serta kondisi fundamental perseroan.

"Hal tersebut turut menjadi pengingat bagi Bank Mandiri untuk mengantisipasi dinamika eksternal guna menjaga fundamental secara berkelanjutan," ujar Adhika.

Adhika menjelaskan, ke depan pihaknya bakal fokus dalam memperkuat langkah antisipatif terhadap berbagai risiko eksternal melalui penguatan pengelolaan likuiditas dan permodalan, serta pemeliharaan kualitas pembiayaan.

"BMRI juga akan tetap menjaga disiplin dalam penerapan manajemen risiko dan melanjutkan strategi pertumbuhan berkelanjutan," ujar Adhika.

(taufan sukma)

Halaman : 1 2 3 4 5
Advertisement
Advertisement