AALI
10025
ABBA
406
ABDA
0
ABMM
1535
ACES
1415
ACST
272
ACST-R
0
ADES
2570
ADHI
1155
ADMF
7950
ADMG
234
ADRO
1735
AGAR
350
AGII
1470
AGRO
2020
AGRO-R
0
AGRS
210
AHAP
65
AIMS
500
AIMS-W
0
AISA
232
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
795
AKRA
4660
AKSI
458
ALDO
720
ALKA
250
ALMI
238
ALTO
300
Market Watch
Last updated : 2021/10/22 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
516.22
0.19%
+0.98
IHSG
6643.74
0.16%
+10.77
LQ45
970.79
0.27%
+2.64
HSI
26126.93
0.42%
+109.40
N225
28804.85
0.34%
+96.27
NYSE
17083.15
-0.09%
-16.06
Kurs
HKD/IDR 1,814
USD/IDR 14,120
Emas
814,092 / gram

Utang Evergrande Tembus Rp4.270 T, Analis Ungkap Sentimen ke IHSG

MARKET NEWS
Dinar Fitra Maghiszha
Selasa, 21 September 2021 20:40 WIB
Soal krisis Evergrande, analis berikan pendapatnya soal sentimen ke IHSG.
Utang Evergrande Tembus Rp4.270 T, Analis Ungkap Sentimen ke IHSG(Dok.MNC Media)

IDXChannel - Krisis keuangan salah satu grup properti terbesar di China, Evergrande menjadi pembicaraan publik belakangan ini. Pasalnya, jeratan utang Evergrande telah menembus total US$ 300 miliar atau setara hampir Rp4.270 triliun atau Rp4,2 kuadriliun.

Perusahaan telah memberi peringatan kepada investor atas risiko gagal bayar, meskipun kemungkinan masuknya pendapatan baru masih terbuka lebar, hal ini memiliki  risiko mengingat dana perusahaan yang terbatas.

Sejumlah analis mengkhawatirkan apa yang dialami Evergrande saat ini dapat mengulangi hal serupa yang terjadi pada 2008, tepatnya krisis Subrime Mortgage yang puncaknya terjadi pada 15 September 2008, membuat raksasa keuangan dunia Lehman Brothers bangkrut.

Senior Technical Analyst PT Henan Putihrai Sekuritas, Lisa C. Suryanata meyakini bahwa apa yang dialami Evergrande tidak sebesar krisis 2008.

Argumen Lisa berangkat dari perbandingan total utang yang dialami kedua entitas tersebut.

"Perlu dicermati dengan kepala dingin bahwa krisis Evergrande tidak sebesar krisis properti tahun 2008 Subprime Mortgage yang angkanya mencapai USD10 triliun," kata Lisa dalam 2nd Session Closing, Selasa (21/9/2021).

Dirinya mencermati pemerintah China sanggup melakukan bailout atau pemberian dana talangan bagi grup tersebut untuk mengurangi dampak di masyarakat.

"Tapi tampaknya pemerintah China sudah bisa gerak cepat dan gesit untuk menyuntikkan likuiditas atas utang yang mencapai 2 persen dari PDB China tersebut," tuturnya.

Dirinya berharap kabar buruk dari China itu tidak terlalu membawa dampak buruk bagi pasar modal Indonesia. "Mudah-mudahan, efek sentimen negatifnya di market akan lambat laun mencair setelah ada kabar bailout," tandasnya. 

(IND) 

Rekomendasi Berita
Berita Terkait
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD