Di tengah risiko tersebut, Wilbert menilai penurunan pasar saham Indonesia sejauh ini lebih banyak disebabkan oleh penyusutan valuasi atau de-rating, bukan semata-mata penurunan prospek laba perusahaan.
IHSG saat ini diperdagangkan pada rasio forward price to earnings (P/E) sebesar 7,3 kali dan price to book value (P/BV) 1,36 kali. Kedua rasio tersebut sudah mendekati level terendah dalam 20 tahun terakhir.
Bahkan, berdasarkan P/E historis atau trailing P/E, valuasi IHSG berada di 9,6 kali, lebih rendah dibandingkan median 12,3 kali pada kelompok pasar standalone.
Sejak Januari 2026, rasio forward P/E IHSG telah menyusut 47 persen.
Penurunan tersebut hampir sepenuhnya menjelaskan pelemahan indeks, sementara imbal hasil ekuitas atau return on equity (ROE) tersirat sebesar 18,6 persen masih sejalan dengan rata-rata jangka panjang.
Menurut Mirae, skenario penurunan hingga menyamai titik terendah pada kasus-kasus penurunan klasifikasi sebelumnya dapat membawa rasio P/BV IHSG ke kisaran 1,03-1,11 kali. Level tersebut bahkan belum pernah terlihat dalam 20 tahun terakhir.