sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Wall Street Berakhir Melemah, Indeks S&P 500 cs Kompak Turun

Market news editor Kunthi Fahmar Sandy
29/08/2026 06:43 WIB
Wall Street sebagian besar berakhir melemah pada hari Jumat (28/9/2026), karena pidato yang cenderung hawkish dari Ketua Federal Reserve Kevin Warsh.
Wall Street Berakhir Melemah, Indeks S&P 500 cs Kompak Turun (FOTO:iNews Media Group)
Wall Street Berakhir Melemah, Indeks S&P 500 cs Kompak Turun (FOTO:iNews Media Group)

IDXChannel - Wall Street sebagian besar berakhir melemah pada hari Jumat (28/9/2026), karena pidato yang cenderung hawkish dari Ketua Federal Reserve Kevin Warsh di konferensi Jackson Hole.

Sehingga investor membayangi kenaikan pada saham sektor barang konsumsi diskresioner dan layanan komunikasi. Adapun sebagian besar saham dalam kelompok "Magnificent Seven" juga mencatatkan kenaikan, sehingga turut membatasi penurunan pasar.

Dilansir dari laman Investing Sabtu (29/8/2026), secara mingguan, saham-saham AS mencatatkan kenaikan didorong oleh lonjakan harga pada hari Kamis menyusul laporan kinerja kuartalan dan panduan bisnis yang sangat impresif dari perusahaan terbesar di dunia, Nvidia.

Indeks acuan S&P 500 turun 0,3 persen dan ditutup pada level 7.709,18 poin, sementara indeks blue-chip Dow Jones Industrial Average berakhir sedikit di bawah posisi datar pada level 53.559,34 poin. Indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi turun 0,5 persen dan ditutup pada level 26.402,42 poin.

Selama sepekan, indeks S&P dan Dow masing-masing naik 0,5 persen, sedangkan Nasdaq mencatatkan kenaikan sebesar 0,9 persen.

Dalam pidato utamanya yang sangat dinanti di Simposium Kebijakan Ekonomi Jackson Hole tahunan, pimpinan The Fed membahas berbagai topik, mulai dari kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan panduan kebijakan ke depan (forward guidance) hingga ringkasan kondisi ekonomi terkini. 

Secara khusus, ia menyebutkan bahwa tren inflasi dasar di AS belum menunjukkan "perbaikan yang berarti" dan menegaskan kembali bahwa fokus bank sentral haruslah pada penciptaan stabilitas harga.

Pidato Warsh disampaikan pada saat situasi yang rumit bagi The Fed. Data inflasi yang masih membandel belakangan ini, harga minyak yang tinggi di tengah konflik seolah tak berujung antara AS dan Iran, serta angka nonfarm payrolls yang secara mengejutkan lemah memicu perbedaan pendapat di dalam Federal Open Market Committee (FOMC); tiga presiden bank sentral regional menyatakan ketidaksetujuan terhadap keputusan bulan Juli untuk mempertahankan suku bunga tetap stabil.

"Saat ini, saya meyakini kondisi pasar tenaga kerja sejalan dengan situasi kesempatan kerja penuh (full employment). Namun, terkait aspek stabilitas harga dalam mandat kami, angka-angka yang ada lebih mengkhawatirkan," ujar Warsh dalam pernyataan.

Bank sentral memiliki target inflasi jangka panjang sebesar 2 persen dan lebih memilih untuk memantau indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (Personal Consumption Expenditures atau PCE) guna mengukur tekanan harga. Data pada hari Rabu menunjukkan indikator tersebut naik 3,7 persen secara tahunan (year-on-year) pada bulan Juli, sementara ukuran intinya—yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi—naik 3,3 persen secara tahunan. Terakhir kali indeks harga PCE berada di bawah level 2 persen adalah pada Februari 2021.

"Ukuran inflasi yang menjadi acuan utama The Fed, yaitu perubahan indeks harga PCE dalam periode 12 bulan, tercatat sebesar 3,7 persen, sedangkan perubahan dalam periode enam bulan mencapai 4,1 persen. Angka pembanding dari indeks harga konsumen (CPI) juga menunjukkan tingkat yang tinggi, begitu pula dengan ukuran inflasi inti baik untuk PCE maupun CPI," kata Warsh.

"Tidak ada satu pun dari ukuran-ukuran ini yang sempurna, namun semuanya menunjukkan gambaran yang serupa: inflasi bergerak di atas target 2 persen kami. Oleh karena itu, fokus utama The Fed saat ini seharusnya tertuju pada masalah harga," tuturnya.

Pidato utama tersebut dinilai bernada hawkish, yang mendorong para pelaku pasar meningkatkan ekspektasi mereka terhadap kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin oleh FOMC pada bulan September. Berdasarkan data dari perangkat CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga tersebut kini berada di atas 59 persen, naik dari sekitar 35 persen pada hari sebelumnya.

"Secara umum, komentar-komentar tersebut bernada hawkish," demikian penilaian Eric Rosengren, mantan Presiden The Fed Boston.

Sementara itu, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) meningkat setelah pidato tersebut, seiring dengan aksi jual obligasi. Imbal hasil acuan tenor 10 tahun tercatat naik 5,3 basis poin menjadi 4,725 persen, sedangkan imbal hasil tenor 2 tahun—yang lebih sensitif terhadap perubahan suku bunga—naik 12,2 basis poin menjadi 4,354 persen.

Pasar obligasi belakangan ini mengalami fluktuasi tajam; obligasi tenor panjang dilanda aksi jual akibat kekhawatiran seputar inflasi, penerbitan utang korporasi, serta membengkaknya utang nasional AS.

Langkah intervensi tak terduga oleh Departemen Keuangan AS pekan lalu hanya memberikan dampak minim dalam menahan laju kenaikan imbal hasil. Meskipun kenaikan imbal hasil obligasi umumnya berdampak serupa dengan kenaikan suku bunga—yakni meningkatkan biaya pinjaman bagi konsumen dan pelaku usaha—berita mengenai utang AS yang menembus angka USD40 triliun memicu keraguan fiskal. 

Dalam situasi tersebut, investor cenderung mengalihkan modal dari mata uang fiat ke aset riil (hard assets) seperti emas atau mata uang kripto—sebuah strategi yang dikenal sebagai debasement trade (perdagangan antisipasi penurunan nilai mata uang).

(kunthi fahmar sandy)

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement