Pasar obligasi belakangan ini mengalami fluktuasi tajam; obligasi tenor panjang dilanda aksi jual akibat kekhawatiran seputar inflasi, penerbitan utang korporasi, serta membengkaknya utang nasional AS.
Langkah intervensi tak terduga oleh Departemen Keuangan AS pekan lalu hanya memberikan dampak minim dalam menahan laju kenaikan imbal hasil. Meskipun kenaikan imbal hasil obligasi umumnya berdampak serupa dengan kenaikan suku bunga—yakni meningkatkan biaya pinjaman bagi konsumen dan pelaku usaha—berita mengenai utang AS yang menembus angka USD40 triliun memicu keraguan fiskal.
Dalam situasi tersebut, investor cenderung mengalihkan modal dari mata uang fiat ke aset riil (hard assets) seperti emas atau mata uang kripto—sebuah strategi yang dikenal sebagai debasement trade (perdagangan antisipasi penurunan nilai mata uang).
(kunthi fahmar sandy)