IDXChannel - Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka melonjak pada perdagangan Rabu (8/4/2026). Kenaikan tersebut terjadi di tengah penurunan harga minyak yang mendekati USD90 per barel setelah Presiden AS, Donald Trump, menarik ancaman eskalasi perang dengan Iran.
Indeks S&P 500 melonjak 2,6 persen setelah AS, Iran, dan Israel menyepakati gencatan senjata selama dua pekan, beberapa jam sebelum tenggat yang ditetapkan untuk membuka kembali Selat Hormuz. Indeks Dow Jones Industrial Average naik 1.383 poin atau 3 persen, sementara Nasdaq menguat 3,3 persen, mengikuti kenaikan signifikan di pasar Asia dan Eropa.
Kendati demikian, posisi pasar saham masih berada di bawah level sebelum perang pecah. Harga minyak juga masih relatif tinggi karena risiko konflik berlanjut tetap membayangi pasokan energi global.
Di AS, harga rata-rata bensin telah melampaui USD4,16 per galon, naik dari di bawah USD3 sebelum konflik dimulai pada akhir Februari. Kenaikan harga energi berpotensi mendorong inflasi karena berdampak pada biaya transportasi barang.
Kepala Strategi Monex, Takashi Hiroki menilai sentimen pasar mulai membaik, namun ketidakpastian masih tinggi. "Ada alasan untuk optimistis, tetapi masih terlalu dini untuk menyimpulkan karena, seperti yang Anda tahu, ini melibatkan Trump,” ujarnya dikutip dari AP.
Ketidakpastian juga dipicu oleh pola kebijakan Trump yang kerap menetapkan tenggat atas Iran untuk membuka Selat Hormuz, namun kemudian menundanya. Kondisi ini mengingatkan pasar pada kebijakan tarif impor sebelumnya yang juga mengalami penundaan sebelum akhirnya dinegosiasikan ulang.
Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer mengatakan sentimen pasar saat ini masih berhati-hati. “Suasana pasar masih cenderung optimisme yang hati-hati, bukan euforia penuh. Gencatan senjata hanya berlangsung dua minggu dan pasar akan mencermati apakah jalur pengiriman di Selat Hormuz benar-benar pulih serta apakah kesepakatan ini bisa mengarah pada perdamaian yang lebih permanen,” katanya.
Harga minyak mentah acuan AS anjlok 17,5 persen menjadi USD93,15 per barel, sementara Brent turun 16,6 persen ke USD91,11 setelah sebelumnya sempat menembus USD119 saat kekhawatiran konflik memuncak.
Di Asia, indeks Kospi Korea Selatan melonjak 6,9 persen, Nikkei 225 Jepang naik 5,4 persen, dan Hang Seng Hong Kong menguat 3,1 persen. Sementara di Eropa, indeks DAX Jerman naik 5,2 persen dan CAC 40 Prancis menguat 4,9 persen.
Di Wall Street, saham-saham dengan terbebani harga minyak bergerak menguat. United Airlines melonjak 13,7 persen, sementara Delta Air Lines naik 11 persen setelah mencatatkan laba kuartalan di atas ekspektasi. Saham Norwegian Cruise Line juga naik 11,9 persen.
Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun turun menjadi 4,25 persen dari 4,33 persen. Kondisi ini mencerminkan meredanya kekhawatiran inflasi dan berpotensi menurunkan suku bunga kredit seperti hipotek, yang sebelumnya membebani aktivitas ekonomi.
(Rahmat Fiansyah)