IDXChannel - Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka variatif pada perdagangan Rabu (11/3/2026) waktu setempat. Investor mencermati laporan inflasi terbaru serta keputusan Badan Energi Internasional (IEA) yang akan melepas cadangan minyak dalam jumlah besar untuk meredam lonjakan harga energi di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Harga energi kembali berangsur normal setelah 32 negara anggota IEA sepakat melepas 400 juta barel minyak dari cadangan strategis. Seorang pejabat Jerman mengatakan AS dan Jepang diperkirakan menjadi kontributor terbesar dalam langkah tersebut, sedangkan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz diperkirakan akan terganggu untuk sementara waktu.
Sementara itu, Presiden AS, Donald Trump mengatakan kepada Axios bahwa hampir tidak ada lagi target yang tersisa di Iran dan konflik di kawasan tersebut diperkirakan akan segera berakhir.
Adapun laporan Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan ekspektasi kenaikan harga bensin akibat potensi eskalasi konflik di Timur Tengah mulai tercermin dalam harga konsumen pada Februari. Setelah data tersebut dirilis, pelaku pasar menunda ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve sebesar 25 basis poin menjadi Oktober dari sebelumnya September, berdasarkan data yang dihimpun LSEG.
Lonjakan harga minyak yang terjadi bersamaan dengan tanda-tanda melemahnya pasar tenaga kerja diperkirakan semakin mempersulit kebijakan moneter bank sentral AS