sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Wall Street Ditutup Melemah, Investor Menanti Deeskalasi Perang AS-Iran

Market news editor Nia Deviyana
21/07/2026 06:20 WIB
Indeks Nasdaq yang didominasi saham teknologi turun lebih tipis dibandingkan S&P 500 dan Dow Jones.
Wall Street Ditutup Melemah, Investor Menanti Deeskalasi Perang AS-Iran. Foto: AP.
Wall Street Ditutup Melemah, Investor Menanti Deeskalasi Perang AS-Iran. Foto: AP.

IDXChannel - Tiga indeks utama Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Senin (20/7/2026) waktu setempat. Investor mencermati perkembangan menuju deeskalasi konflik Timur Tengah dan menantikan laporan kinerja keuangan sejumlah perusahaan teknologi besar yang akan dirilis akhir pekan ini.

Melansir Reuters, Dow Jones Industrial Average turun 307,16 poin atau 0,59 persen menjadi 51.839,26. S&P 500 melemah 14,41 poin atau 0,19 persen menjadi 7.443,28, sedangkan Nasdaq Composite turun 12,17 poin atau 0,05 persen menjadi 25.508,07.

Indeks Nasdaq yang didominasi saham teknologi turun lebih tipis dibandingkan S&P 500 dan Dow Jones, didorong sektor semikonduktor yang berhasil memangkas sebagian kerugian yang terjadi pekan lalu. Selain itu, sektor-sektor seperti layanan komunikasi dan teknologi kembali menguat, bersama dengan saham-saham energi.

Musim laporan keuangan kuartal II mulai memasuki periode yang lebih sibuk pekan ini. Sejumlah perusahaan besar seperti Alphabet, Tesla, dan Intel dijadwalkan merilis hasil kinerjanya, sehingga memberikan gambaran yang lebih luas mengenai kondisi kesehatan korporasi di Amerika Serikat setelah pekan sebelumnya didominasi laporan dari sektor keuangan.

Pasar memperkirakan pertumbuhan laba perusahaan-perusahaan dalam indeks S&P 500 pada kuartal II mencapai 26 persen secara tahunan, meningkat dari proyeksi sebelumnya sebesar 23,7 persen, berdasarkan data LSEG.

Investor juga akan mencermati laporan keuangan produsen chip seperti Intel dan Texas Instruments untuk mencari sinyal positif, setelah Indeks Philadelphia SE Semiconductor (SOX) pada Jumat lalu ditutup lebih dari 20 persen di bawah rekor tertingginya pada akhir Juni, yang mengonfirmasi bahwa indeks tersebut telah memasuki fase bear market.

Setelah sempat melonjak hampir 4 persen di awal perdagangan, indeks semikonduktor akhirnya ditutup menguat terbatas, yakni 0,6 persen.

Apple menjadi pemberat terbesar bagi S&P 500 setelah turun 2 persen, sementara Microsoft menjadi penyumbang kenaikan terbesar bagi indeks tersebut.

Saham dengan kenaikan persentase terbesar di S&P 500 adalah Global Payments Inc yang melonjak 5,8 persen setelah Morgan Stanley menaikkan rekomendasi saham tersebut menjadi overweight serta meningkatkan target harganya menjadi USD100 dari sebelumnya USD65. Sebaliknya, penurunan terbesar dialami Carvana Co yang merosot 4,8 persen.

Saham Alphabet naik 1,5 persen dan menjadi penyumbang kenaikan terbesar ketiga bagi S&P 500 setelah muncul laporan bahwa unit Google itu tengah mengembangkan chip server yang terintegrasi dengan Gemini. Chip tersebut ditujukan untuk meningkatkan efisiensi kecerdasan buatan (AI) sekaligus mengurangi keterbatasan kapasitas komputasi.

Di sektor lain, saham Domino’s Pizza menguat 2,1 persen setelah pendapatan kuartalannya sedikit melampaui ekspektasi Wall Street.

Dari geopolitik, kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran pada Senin menyatakan memberlakukan blokade laut terhadap Arab Saudi. Langkah tersebut membuka babak baru perang Amerika Serikat-Iran, sekaligus memperluas ancaman terhadap pasokan energi dan perdagangan global di luar kawasan Teluk.

Namun, seorang pejabat senior Iran mengatakan para mediator telah menyampaikan proposal kepada Iran untuk meredakan konflik dengan Amerika Serikat. Proposal tersebut menawarkan gencatan senjata selama 10 hari guna mencari cara menghidupkan kembali kesepakatan sementara yang dicapai bulan lalu.

(NIA DEVIYANA)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement