IDXChannel - Indeks utama Wall Street ditutup melemah pada Selasa (3/3/2026) waktu setempat. Investor khawatir konflik di Timur Tengah akan berlangsung lama, meski indeks berhasil ditutup jauh dari posisi terendah di hari tersebut.
Melansir Reuters, S&P 500 turun 65,03 poin atau 0,94 persen ke 6.816,59. Nasdaq Composite turun 227,62 poin atau 1,00 persen ke 22.521,24. Dow Jones Industrial Average melemah 399,57 poin atau 0,82 persen ke 48.505,21.
Penjualan terjadi secara luas, dengan sektor material menjadi yang paling tertekan di antara sektor utama S&P 500. Indeks Volatilitas Cboe (VIX) juga naik.
Investor mencemaskan dampak konflik yang kini memasuki hari keempat terhadap inflasi, seiring harga minyak yang terus mencatat kenaikan tajam. Pasukan Israel dan AS menyerang sejumlah target di Iran, memicu serangan balasan Iran di sekitar kawasan Teluk, sementara konflik juga meluas ke Lebanon.
“Secara fundamental tidak banyak yang berubah dibanding kemarin, tetapi investor semakin gelisah soal durasi perang dan dampaknya terhadap harga energi,” kata kepala strategi investasi di Northern Trust Asset Management, San Diego, Joseph Tanious.
Manajer portofolio di Argent Capital Management, Jed Ellerbroek, mengatakan reaksi pasar sejauh ini masih tergolong “sangat jinak”, yang menunjukkan toleransi risiko investor masih relatif terjaga.
Dalam sinyal yang berpotensi negatif, S&P 500 ditutup di bawah rata-rata pergerakan 100 harinya untuk pertama kali sejak 20 November.
Saham Blackstone turun setelah dana kredit andalannya, BCRED, mengalami lonjakan permintaan penarikan dana (redemption).
Ancaman Teheran untuk menyerang kapal mana pun yang mencoba melintasi Selat Hormuz, ditambah penghentian produksi oleh sejumlah produsen minyak dan gas Timur Tengah, telah mendorong tarif pengiriman global serta harga minyak mentah dan gas alam naik. Selat tersebut merupakan jalur vital yang mengangkut sekitar seperlima konsumsi minyak dunia.
Investor khawatir lonjakan harga minyak dapat memicu inflasi dan menyulitkan keputusan kebijakan bank sentral, yang sudah terbebani kenaikan harga akibat tarif.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sempat menyentuh level tertinggi dalam sepekan, dan investor menggeser ekspektasi pemangkasan suku bunga 25 basis poin oleh Federal Reserve menjadi September dari sebelumnya Juli, menurut data yang dihimpun LSEG.
(NIA DEVIYANA)