sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Wall Street Ditutup Variatif Imbas Berlanjutnya Aksi Ambil Untung Saham-Saham AI

Market news editor Rahmat Fiansyah
10/06/2026 06:29 WIB
Bursa saham AS ditutup variatif setelah aksi jual kembali melanda saham-saham kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI)
Bursa saham AS ditutup variatif setelah aksi jual kembali melanda saham-saham kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). (Foto: iNews Media Group)
Bursa saham AS ditutup variatif setelah aksi jual kembali melanda saham-saham kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup variatif pada perdagangan Selasa (10/6/2026) waktu setempat setelah aksi jual kembali melanda saham-saham kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Tekanan pada sektor teknologi membuat Nasdaq melemah, sedangkan Dow Jones masih mampu mencatat kenaikan tipis.

Dikutip dari AFP, indeks S&P 500 turun 0,3 persen ke 7.386,65 setelah sempat berfluktuasi tajam dari kenaikan 1-2,3 persen pada sesi perdagangan. Dow Jones Industrial Average naik 86,10 poin atau 0,2 persen ke 50.872,11, sedangkan Nasdaq Composite merosot 1 persen ke 25.678,82.

Tekanan muncul setelah saham-saham produsen chip, memori, dan komponen utama AI berbalik arah dari zona hijau ke merah. Saham Micron Technology sempat melonjak 4 persen sebelum anjlok 10 persen dan akhirnya ditutup turun 1,4 persen. Padahal sehari sebelumnya saham tersebut melesat 9,9 persen setelah sebelumnya sempat jatuh 13,3 persen.

Koreksi juga terjadi pada saham Marvell Technology yang turun 7,6 persen dan Advanced Micro Devices (AMD) yang melemah 3 persen. Pergerakan tersebut memicu kembali perdebatan apakah reli saham AI telah terlalu cepat atau hanya mengalami koreksi sehat setelah lonjakan besar sepanjang tahun ini.

Di tengah volatilitas tersebut, sejumlah perusahaan AI masih berlomba masuk ke pasar modal AS. OpenAI, pengembang ChatGPT, mengumumkan telah mengajukan dokumen rahasia kepada regulator AS untuk membuka jalan menuju penawaran umum perdana saham (IPO). Sementara itu, IPO SpaceX disebut berpotensi berlangsung dalam waktu dekat.

Pelemahan saham AI menutupi sentimen positif dari turunnya harga minyak. Sekitar tiga dari empat saham anggota S&P 500 sebenarnya mencatat kenaikan. Harga minyak Brent turun 3 persen menjadi USD91,45 per barel seiring naik-turunnya harapan tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.

Namun, harga minyak memangkas sebagian penurunannya setelah Presiden AS Donald Trump menuduh Iran bertanggung jawab atas jatuhnya helikopter militer Amerika di dekat Selat Hormuz. Trump mengatakan Amerika Serikat "harus" merespons serangan tersebut.

Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun turun menjadi 4,52 persen dari sebelumnya 4,56 persen. Meski demikian, level tersebut masih jauh di atas posisi 3,97 persen sebelum konflik dengan Iran meningkat. Investor kini menanti data inflasi AS yang akan dirilis pada Rabu dan Kamis waktu setempat.

Pelaku pasar juga memperkirakan Federal Reserve masih berpeluang menaikkan suku bunga acuan setidaknya satu kali lagi hingga akhir tahun. Suku bunga yang lebih tinggi dapat membantu menekan inflasi, tetapi berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi serta membebani valuasi saham dan aset investasi lainnya.

Di sisi korporasi, saham American Airlines naik 3,6 persen dan Delta Air Lines menguat 3,8 persen seiring turunnya harga minyak yang berpotensi mengurangi biaya bahan bakar. Sementara itu, J.M. Smucker melonjak 10,4 persen setelah membukukan laba kuartalan yang melampaui ekspektasi analis. Adapun saham perusahaan bioteknologi Nuvalent melesat 39,3 persen setelah menyepakati akuisisi senilai USD10,6 miliar oleh GSK.

(Rahmat Fiansyah)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement