Pada Jumat, ekspektasi kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin persentase menguat setelah data menunjukkan adanya peningkatan inflasi konsumen pada bulan Agustus. Indeks Harga Konsumen (IHK) inti yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi yang fluktuatif, naik sebesar 0,3 persen, angka yang lebih tinggi dari perkiraan.
"Saat ini, fokus utama tertuju pada kemungkinan kenaikan suku bunga di bulan September," ujar Chief Investment Officer di BNY Wealth, Alicia Levine.
Kinerja Saham di Tengah Ketidakpastian
Suku bunga yang lebih tinggi dapat menghambat kinerja saham melalui berbagai cara, termasuk dengan meningkatkan biaya pinjaman bagi konsumen maupun perusahaan. Kenaikan suku bunga yang berdampak pada naiknya imbal hasil obligasi pemerintah (Treasury) dapat menciptakan persaingan investasi dari obligasi serta menekan valuasi saham.
Indeks acuan S&P 500 telah naik hampir 12 persen sepanjang tahun 2026, didorong oleh pertumbuhan laba perusahaan yang kuat berkat belanja besar-besaran untuk infrastruktur kecerdasan buatan (AI).
Belakangan ini, indeks tersebut mengalami koreksi dan berada sekitar 2 persen di bawah rekor tertinggi yang dicapai pada pertengahan Agustus. Aksi jual di pasar obligasi telah mendorong imbal hasil Treasury AS ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir; imbal hasil obligasi acuan tenor 10 tahun kini mendekati level 5 persen, sebuah angka yang berpotensi menimbulkan masalah lebih lanjut bagi pasar saham.
Investor juga dihadapkan pada ketegangan yang memuncak antara AS dan Iran, yang pekan ini sempat mendorong harga minyak melampaui angka USD100 per barel.
Pasar saham menguat pada Jumat seiring dengan penurunan harga minyak.
Menyusul data CPI, data Fed funds futures pada akhir hari Jumat menunjukkan peluang lebih dari 80 persen bahwa bank sentral akan menaikkan suku bunga; yang saat ini berada di kisaran 3,5-3,75 persen, sebesar seperempat poin persentase, menurut data LSEG.
(Dhera Arizona)