IDXChannel - Pekan ini menjadi momen yang cukup krusial bagi Wall Street di mana investor akan menggantungkan harapan pada musim laporan laba perusahaan untuk menjaga reli pasar saham AS tetap berlanjut. Harapan ini muncul di tengah derasnya proposal kebijakan domestik dan meningkatnya ketegangan geopolitik di awal tahun.
Setelah bank-bank dan perusahaan jasa keuangan lain membuka musim laporan kuartal keempat, pekan ini giliran perusahaan dengan sektor yang lebih beragam, termasuk Netflix, Johnson & Johnson, dan Intel, yang akan merilis kinerja keuangan mereka.
Usai performa solid sepanjang 2025, indeks saham utama memulai tahun ini dengan kenaikan, meski sempat melemah pekan lalu dan indikator volatilitas meningkat.
"Dengan banyaknya kebisingan dari geopolitik dan kebijakan, menjadi sangat penting bagi laporan laba perusahaan untuk benar-benar menopang siklus berita,” ujar kepala strategi pasar di B Riley Wealth, Art Hogan, dilansir Reuters, Senin (19/1/2026).
Indeks S&P 500 turun tipis sepanjang pekan, namun tetap berada dekat level tertinggi sepanjang masa. Setelah mencatat kenaikan kuat pada 2025, saham bank besar seperti JPMorgan dan Wells Fargo justru melemah usai merilis laporan keuangan.
Salah satu faktor yang menekan saham perbankan adalah usulan Presiden Donald Trump untuk membatasi suku bunga kartu kredit maksimal 10 persen, langkah mengejutkan yang membuat industri terkejut, serta rencana baru presiden untuk menghentikan perusahaan Wall Street membeli rumah tapak (single-family homes).
Di tingkat internasional, langkah dan pernyataan agresif Trump juga membuat investor waspada. Sorotan global terbaru tertuju pada Iran, di mana Trump sempat mengancam intervensi demi mendukung para demonstran, meski kemudian mengambil sikap wait and see.