Ketidakpastian ini mendorong peningkatan minat terhadap aset aman seperti emas sepanjang tahun ini, sementara beberapa sektor saham seperti energi berfluktuasi. Namun secara umum, indeks saham utama sejauh ini relatif tidak terlalu terganggu oleh perkembangan berita tersebut.
"Pasar sejauh ini cenderung mengabaikan banyak isu geopolitik dan politik domestik, tapi jelas ada banyak hal yang patut dikhawatirkan,” kata co-chief investment officer dan direktur riset manajemen investasi di D.A. Davidson, James Ragan.
Pasar saham AS tutup pada Senin dalam rangka libur Martin Luther King Jr., namun musim laporan laba kembali bergulir setelahnya, dipimpin oleh laporan Netflix pada Selasa. Perusahaan streaming tersebut akan mendapat perhatian ekstra karena persaingannya dengan Paramount Skydance dalam perebutan Warner Bros Discovery, kesepakatan yang berpotensi mengguncang lanskap industri media.
Fokus utama investor adalah prospek perusahaan ke depan, dengan harapan tinggi untuk 2026. Secara keseluruhan, laba perusahaan S&P 500 diperkirakan tumbuh lebih dari 15 persen pada 2026.
Investor juga menunggu keputusan Mahkamah Agung AS terkait legalitas tarif global Trump, yang berpotensi memicu volatilitas harga aset.
Pada Rabu, pengadilan juga akan mendengarkan argumen mengenai upaya Trump mencopot Gubernur Federal Reserve Lisa Cook, yang kembali menyoroti isu independensi bank sentral di tengah kritik Trump yang berulang bahwa The Fed belum cukup menurunkan suku bunga.
Kekhawatiran atas independensi The Fed kembali mencuat pekan ini setelah muncul kabar penyelidikan kriminal terhadap Ketua The Fed Jerome Powell.
Trump mengatakan kepada Reuters bahwa dia tidak berencana memecat Powell, yang masa jabatannya sebagai ketua berakhir pada Mei.
"Berakhirnya masa jabatan Powell sebagai ketua akan menjadi titik balik krusial bagi narasi independensi. Kurangnya independensi The Fed dapat memicu kekhawatiran inflasi dan membuat pembiayaan utang AS menjadi lebih mahal," tulis analis Wedbush dalam laporan pekan ini.
(NIA DEVIYANA)