Hal ini dapat mengurangi ketergantungan pasar pada sinyal The Fed, mendorong ketergantungan yang lebih besar pada data ekonomi dan harga pasar, serta mengurangi beban kerja terkait prakiraan dan komunikasi.
Namun, Barclays memperingatkan bahwa manfaat-manfaat ini juga membawa konsekuensi nyata. Jadwal yang lebih jarang dapat membuat komite "kurang tangkas dalam merespons kondisi ekonomi yang terus berubah" dan mengurangi kesempatan untuk menjelaskan bagaimana para pembuat kebijakan menafsirkan data yang masuk, ujar para analis tersebut.
Hal ini juga dapat membuat setiap pertemuan yang tersisa menjadi lebih krusial, sehingga meningkatkan fokus pasar pada keputusan-keputusan individual. "Ironisnya, upaya untuk mengurangi jejak The Fed di pasar pada akhirnya justru dapat meningkatkan sensitivitas pasar terhadap pertemuan kebijakan yang tersisa, karena memusatkan lebih banyak informasi dan ketidakpastian pada jumlah peristiwa kebijakan yang lebih sedikit," tulis mereka.
Barclays memandang perdebatan ini bukan sekadar soal apakah delapan kali pertemuan merupakan jumlah yang tepat, melainkan lebih kepada "apakah FOMC memiliki visi yang sama dengan Warsh mengenai The Fed yang lebih sedikit berkomunikasi, lebih jarang melakukan intervensi, dan memberikan dampak yang lebih kecil terhadap pasar keuangan", serta apakah komite tersebut bersedia mengorbankan fleksibilitas dan transparansi demi mencapai tujuan itu. (Febrina Ratna Iskana)