Hal ini, menurut Leo, bertujuan agar Perseroan memiliki kerangka kerja yang sangat solid, serta metodologi yang ilmiah dan tangguh dalam menguji berbagai data. Pada akhirnya, kapabilitas inilah yang mendorong kemampuan Perseroan dalam merumuskan strategi yang secara spesifik disesuaikan dengan kebutuhan bisnis.
Paradigma transformasi tersebut, dikatakan Leo, selaras dengan penekanan Head of East Asia, Climate and Sustainability Services S&P Global, Judy Su, yang menitikberatkan pada pentingnya metrik berbasis angka riil.
"Keberlanjutan bukan lagi sekadar narasi, bukan lagi sebatas deskripsi atau semacam analisis kualitatif mengenai apa yang telah kita lakukan. Keberlanjutan harus menjadi sebuah penilaian yang kuantitatif, terukur, dan berdampak, sehingga benar-benar dapat dipahami oleh para investor dan manajemen," ujar Su, dalam kesempatan yang sama.
Menurut Su, transparansi metrik, wawasan manajemen risiko iklim berbasis data, dan transformasi bisnis ini selanjutnya bakal diintegrasikan secara penuh sebagai fondasi inti ekspansi bisnis WIKA Beton ke depan.
"Melalui praktik ESG, WTON telah memproyeksikan penciptaan nilai jangka panjang yang menguntungkan seluruh pemegang saham, sekaligus mengukuhkan daya tahan fundamental Perseroan sebagai bagian dari ekosistem Danantara dan BUMN," ujar Su.
(taufan sukma)