AALI
9275
ABBA
280
ABDA
0
ABMM
2410
ACES
720
ACST
192
ACST-R
0
ADES
6225
ADHI
815
ADMF
8200
ADMG
177
ADRO
3250
AGAR
310
AGII
2220
AGRO
750
AGRO-R
0
AGRS
113
AHAP
99
AIMS
252
AIMS-W
0
AISA
154
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1545
AKRA
1160
AKSI
272
ALDO
745
ALKA
296
ALMI
308
ALTO
193
Market Watch
Last updated : 2022/08/18 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
546.99
1.02%
+5.51
IHSG
7186.56
0.74%
+53.11
LQ45
1026.34
0.98%
+9.98
HSI
19763.91
-0.8%
-158.54
N225
28942.14
-0.96%
-280.63
NYSE
0.00
-100%
-15846.79
Kurs
HKD/IDR 1,889
USD/IDR 14,765
Emas
836,469 / gram

Sejarah Wabah Penyakit Mulut dan Kuku Ternak (PMK) yang Kembali Merebak di Indonesia

MILENOMIC
Ratih Ika Wijayanti/SEO
Senin, 20 Juni 2022 15:20 WIB
Sejarah wabah penyakit mulut dan kuku ternak (PMK) di Indonesia dimulai pada 1887 bersamaan dengan diimpornya sapi-sapi dari Belanda kala itu.
Sejarah Wabah Penyakit Mulut dan Kuku Ternak (PMK). (Foto: MNC Media)
Sejarah Wabah Penyakit Mulut dan Kuku Ternak (PMK). (Foto: MNC Media)

PMK Kembali Terdeteksi di Indonesia

Untuk pertama kalinya, pada 2016 Indonesia mengimpor daging dari India yang merupakan negara tidak bebas PMK dan tidak memiliki zona bebas PMK. Impor ini legal seiring adanya  Peraturan Pemerintah Nomor 4/2016, turunan UU 41/2014. Menurut beberapa pakar, hal ini bisa menyebabkan kerentanan Indonesia terhadap kemunculan PMK lagi. 
Beberapa kali kasus PMK memang tercatat masuk ke Indonesia, seperti kasus yang ditemukan di Blora pada 2015. Namun, kasus-kasus sebelumnya masih terlokalisasi dan bisa diatasi dengan cepat.  

Hingga pada awal April 2022 lalu, PMK kembali terdeteksi menginfeksi beberapa hewan ternak di Indonesia melalui kambing impor dari Malaysia di Medan. Kini PMK telah menyebar ke-18 provinsi dengan perkiraan kasus mencapai 150 ekor ternak yang terinfeksi. 

Itulah sejarah wabah penyakit mulut dan kuku ternak atau yang dikenal sebagai PMK yang pernah terjadi di Indonesia. Penyakit ini kembali terdeteksi di Indonesia dan membutuhkan penanganan yang cepat dari pemerintah agar tidak meluas. Sebab, jika sudah mewabah, potensi ketergantungan Indonesia terhadap daging impor pun akan semakin meningkat.

Halaman : 1 2 Tampilkan semua
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD