“Inilah yang mungkin memberikan sedikit jawaban untuk pelanggan kita ya. Kenapa kita kejar manufaktur yang bisa cepat me-deliver, Karena apa? sudah pernah kami sampaikan juga di tahun lalu bahwa (kondisi) kritis ya,” ujarnya.
Asdo memperkirakan, titik kritis kapasitas commuter line atau KRL Jabodetabek telah terjadi di semester II/2024 dan diperkirakan terjadi hingga periode yang sama tahun ini. “Titik kritis kita itu ada di semester II/2024 dan semester I/2025,” kata dia.
Dia menyebut, kondisi penumpang KRL Jabodetabek berbanding terbalik dengan jumlah rangkaian kereta yang ada saat ini. Jumlah penumpang terus bertambah sementara kapasitas angkut tak bertambah, sehingga banyak penumpang saling berdesak-desakan, terutama pada jam-jam sibuk.
“Dan ini fenomena yang ada di lapangan sudah membuktikan bahwa rangkaian kami semakin berkurang, penumpang semakin berdesakan, dan inilah mungkin menjadi jawaban untuk memenuhi kebutuhan di semester I,” ucapnya.
(Rahmat Fiansyah)