"Penyemaian awan dilakukan di area lahan gambut yang terdeteksi hotspot untuk mengurangi titik panas dan memperbaiki kualitas udara akibat pekatnya kabut asap," ujar Seto di Jakarta, Sabtu (5/9/2026).
Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, menambahkan bahwa data dari radar cuaca BMKG menjadi bekal utama armada udara gabungan untuk menerbangkan misi penyemaian awan yang dikendalikan dari Posko OMC di Pangkalan Udara Supadio, Kubu Raya. OMC di Kalbar dengan pembiayaan KLH/BPLH berlangsung sejak 22 Agustus hingga 4 September 2026.
"Dalam operasi ini, petugas menerbangkan 27 sorti dengan total bahan semai 24.600 kilogram garam murni (Natrium Klorida/NaCl) pada ketinggian 6.000 hingga 10.000 kaki untuk menembus awan hujan potensial," ujar Budi.
Intervensi teknologi atmosfer ini langsung memicu hujan di berbagai titik termasuk wilayah Putussibau, Kabupaten Kubu Raya, hingga Kota Pontianak pada Jumat (4/10). Guyuran hujan berhasil meningkatkan kelembapan tanah gambut, mendinginkan area terdampak, menipiskan kabut asap dan menekan kemunculan titik api baru.
Secara paralel, pemerintah juga menggelar OMC di wilayah Kalimantan Tengah sejak 26 Agustus hingga 5 September 2026 yang telah mencatatkan 10 sortie penerbangan dengan total 8.000 kg NaCl. Hasilnya menunjukkan adanya kejadian hujan dengan intensitas ringan hingga sedang terpantau di beberapa wilayah, seperti Kabupaten Murung Raya, Barito Utara, Kotawaringin Barat, Kapuas, Lamandau, dan Barito Selatan.