IDXChannel - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus mengintensifkan penanganan darurat bencana, khususnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla), melalui pengerahan armada udara serta pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Langkah ini diambil untuk menekan luas dampak karhutla di berbagai wilayah prioritas.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan mengungkapkan, pihaknya telah menyiagakan puluhan armada udara guna memaksimalkan proses pemadaman di lapangan.
"Untuk memaksimalkan pemadaman karhutla, BNPB telah menyiagakan 59 unit armada udara," ujar Berton, Jumat (30/10/2026).
Berton merincikan, armada tersebut terdiri atas 24 unit pesawat patroli, CASA, dan OMC, serta 35 helikopter water bombing. Dari total 59 unit armada, sebanyak 40 unit merupakan milik BNPB, 15 unit milik TNI, dan 4 unit milik pihak lainnya. Sebanyak 52 unit dari armada tersebut ditempatkan secara strategis di enam provinsi prioritas penanganan karhutla.
Rinciannya, Kalimantan Selatan (14 unit), Kalimantan Tengah (10 unit), Sumatera Selatan (10 unit), Kalimantan Barat (9 unit), Jambi (5 unit), dan Riau (4 unit). Sementara itu, 7 unit lainnya tersebar di luar provinsi prioritas, yaitu Jawa Timur (2 unit), Lampung (2 unit), Kalimantan Timur/IKN (1 unit), Papua Selatan (1 unit), dan Papua Barat Daya (1 unit).
Selain kesiapan armada udara, BNPB juga menggenjot upaya preventif melalui pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dilakukan pada Rabu (28/10/2026). Berdasarkan data BNPB, OMC mencatat 16 sorti penerbangan dengan total penggunaan bahan semai mencapai 22.600 kilogram, yang terdiri atas dry ice dan NaCl.
Operasi tersebut difokuskan di dua wilayah utama, yakni di Kalimantan Tengah dilaksanakan 8 sorti dengan 11.700 kg bahan semai (menyasar Kotawaringin Barat dan Seruyan/TNTP). Di Sumatera Selatan dilaksanakan 8 sorti dengan 10.900 kg bahan semai (menyasar wilayah timur hingga tenggara Palembang).
"Hujan dilaporkan turun di sejumlah wilayah berkat pelaksanaan OMC tersebut, termasuk di Banjarmasin,Banjarbaru, Cengal, dan Pangkalan Jerambah," tambah Berton.
Secara keseluruhan, luas lahan dalam penanganan karhutla di berbagai provinsi tercatat seluas 434 hektare,yang meliputi Kalimantan Timur (169 ha), Sulawesi Tengah (85 ha), Sulawesi Tenggara (56 ha), Sulawesi Selatan (50 ha), Maluku (31 ha), Maluku Utara (23 ha), Nusa Tenggara Timur (10 ha), Gorontalo (4 ha),Kalimantan Selatan (4 ha), dan Jawa Timur (2 ha). Jika digabungkan dengan wilayah Papua Selatan seluas 161,5 ha, total luas lahan dalam penanganan mencapai 595,5 ha.
Di samping karhutla, laporan Koordinasi dan Pengendalian Operasi (Kordalops) BNPB mencatat adanya penambahan lima kejadian bencana baru pada Kamis (29/10). Bencana tersebut meliputi banjir di Kabupaten Aceh Selatan, Kabupaten Langkat, dan Kabupaten Mandailing Natal; tanah longsor di Kabupaten Bandung Barat; serta karhutla di Kabupaten Morowali Utara.
BNPB juga terus memantau penanganan dampak bencana sebelumnya. Pada Rabu (28/10), banjir di Kota Subulussalam (Aceh) tercatat berdampak pada 1.985 kepala keluarga (KK) dengan 177 rumah terendam,sementara di Kabupaten Langkat (Sumut) sebanyak 691 KK terdampak.
Untuk mengatasi dampak kekeringan, BNPB bersama instansi terkait telah mendistribusikan bantuan air bersih di lima wilayah, yaitu Kabupaten Pekalongan, Cilacap, Klaten, Nganjuk, dan Blitar. Total bantuan air bersih yang disalurkan telah mencapai 335.900 liter untuk membantu 162.304 jiwa yang terdampak kekeringan.
(Febrina Ratna Iskana)