Meski demikian, Erick menyoroti pentingnya keberlanjutan pembinaan bagi atlet lapis kedua atau "menuju prioritas" agar regenerasi tidak terputus.
"Dengan kondisi efisiensi anggaran saat ini, kami benar-benar memprioritaskan atlet yang sudah masuk kategori utama. Padahal dalam olahraga ada atlet prioritas dan atlet menuju prioritas. Atlet menuju prioritas tidak boleh berhenti dibina karena nantinya atlet prioritas akan pensiun. Itulah mengapa saya mengusulkan anggaran Pelatnas bersifat multiyears agar persiapan menuju Olimpiade 2032 bisa dilakukan sejak sekarang," tegas Erick.
Menjelaskan kondisi finansial Kemenpora, ia mengungkapkan bahwa alokasi anggaran tahun ini mengalami penurunan signifikan dalam satu dekade terakhir. Dari total porsi yang ada, sebagian anggaran juga sempat diblokir, termasuk dana perjalanan dinas yang krusial bagi mobilitas atlet dan pelatih.
“Selama sekitar 10 tahun, rata-rata anggaran Kemenpora mencapai Rp2,6 triliun. Tahun ini anggaran yang diberikan sekitar Rp1,15 triliun, bahkan lebih rendah dibanding masa pandemi yang mencapai Rp1,2 triliun. Dari Rp1,15 triliun itu masih ada sekitar Rp270 miliar yang diblokir. Salah satunya untuk perjalanan dinas. Tapi saya sudah sampaikan bahwa perjalanan dinas tersebut bukan untuk saya, melainkan untuk atlet dan pelatih," papar dia.
Erick menambahkan, pengelolaan anggaran pemusatan latihan nasional (Pelatnas) saat ini dilakukan secara terperinci, di mana kuota dan identitas atlet dibiayai per individu sesuai kriteria prioritas.