"Itu juga dilakukan secara berkala operasi modifikasi cuaca untuk menjenuhkan tanah gambut di sana agar tidak mudah terbakar. Termasuk kita melakukan modifikasi cuaca di Kepulauan Riau dan Aceh, serta beberapa wilayah lain secara situasional tergantung kondisi," ujarnya.
Selain mencegah karhutla, operasi modifikasi cuaca juga dimanfaatkan untuk membantu pengisian air di sejumlah waduk melalui kerja sama BMKG dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Kehutanan, dan pihak swasta.
"Untuk kekeringan, BMKG melakukan beberapa modifikasi cuaca bekerja sama dengan BNPB, Kementerian Kehutanan, dan juga swasta untuk pengisian waduk. Kita memiliki sekitar 240 waduk, meski tidak semuanya dapat diisi, kami berupaya mengoptimalkan pengisian agar dapat dimanfaatkan untuk PLTA, irigasi, dan kebutuhan air bersih," ujarnya.
Faisal menambahkan, strategi tersebut merupakan bagian dari pendekatan pemerintah yang lebih mengedepankan pencegahan dibandingkan penanganan setelah kebakaran terjadi.
"Tidak hanya kita menunggu adanya titik api, kemudian kita padamkan dengan water bombing maupun penyemprotan dari darat. Ketika permukaan air tanah mulai menurun, dilakukan modifikasi cuaca yang dapat menurunkan jutaan meter kubik air untuk menjenuhkan kawasan tersebut. Karena itu, kebakaran hutan dan lahan kini relatif lebih terkendali dibandingkan sebelum 2015," katanya.
(Rahmat Fiansyah)