IDXChannel - Indonesia menyampaikan keprihatinan mendalam atas laporan serangan rudal dan drone yang menargetkan fasilitas kilang minyak di Perserikatan Emirat Arab (UEA) atau Uni Emirat Arab (UEA).
Hal itu disampaikan Kementerian Luar Negeri (Kemlu). Menurutnya, serangan itu dinilai berisiko meningkatkan ketegangan, melanggar kesepakatan gencatan senjata, serta mengganggu rantai pasok dan keamanan energi global.
“Serangan tersebut berisiko meningkatkan ketegangan, melanggar kesepakatan gencatan senjata, dan mengganggu rantai pasok dan keamanan energi global, yang dampaknya dapat meluas hingga ke negara-negara di luar kawasan,” begitu bunyi keterangan resmi Kemlu, Rabu (6/5/2026).
Indonesia mendesak seluruh pihak untuk menahan diri hingga menjunjung tinggi hukum internasional, termasuk perlindungan terhadap infrastruktur sipil.
“Indonesia mendesak seluruh pihak untuk menahan diri, menghormati kesepakatan gencatan senjata secara penuh, dan menjunjung tinggi hukum internasional, termasuk perlindungan terhadap infrastruktur sipil,” kata dia.
Dalam pernyataan yang disampaikan, Indonesia siap mendukung berbagai upaya de-eskalasi dan mengedepankan dialog untuk mendorong terwujudnya perdamaian dan stabilitas yang berkelanjutan di kawasan.
“Seluruh WNI juga diimbau untuk tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, serta senantiasa mengikuti arahan Pemerintah setempat serta Perwakilan RI di Perserikatan Emirat Arab,” katanya.
Untuk diketahui, kilang minyak UEA Fujairah terbakar usai mendapat serangan drone. Fujairah merupakan titik vital dalam rantai ekspor minyak UEA.
Wilayah ini menjadi ujung dari pipa minyak mentah Abu Dhabi yang memungkinkan distribusi energi langsung ke Teluk Oman tanpa harus melewati Selat Hormuz yang rawan konflik.
UEA menuding Iran yang melancarkan serangan ke Fujairah. Namun, pihak Iran membantahnya.
Iran menuduh Amerika Serikat (AS) menjadi dalang serangan drone dan rudal ke kilang minyak Fujairah.
Dilansir dari Al Jazeera, pejabat militer Iran yang tak ingin disebutkan namanya mengatakan Teheran tak ada rencana menyerang fasilitas energi negara tetangganya.
"Republik Islam tak punya program yang direncanakan sebelumnya untuk menyerang fasilitas minyak yang disebutkan," katanya.
"Apa yang terjadi adalah hasil dari petualangan militer AS yang bertujuan menciptakan jalur bagi transit ilegal kapal melalui jalur air terlarang di Selat Hormuz," kata dia.
(Nur Ichsan Yuniarto)