IDXChannel - Kementerian Perminyakan Irak berupaya memulihkan produksi ke tingkat normal dalam waktu dua bulan.
Dilansir dari Al Jazeera pada Sabtu (20/6/2026), produksi minyak Iran menurun tajam akibat perang yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel di Iran.
Produksi minyak Irak turun sekitar 60 persen akibat perang, dari 3,3 juta barel per hari (bph) sebelum perang menjadi 1,3 juta bph.
Juru Bicara Kementerian Perminyakan Irak Salim Farhoud mengatakan, operator ladang minyak di negara tersebut telah memulai proses pemulihan.
“Ada kemungkinan kita akan kembali ke tingkat produksi sebelumnya dalam satu hingga dua bulan,” kata Farhoud.
Irak termasuk di antara produsen dan eksportir minyak terbesar di dunia, dengan cadangan terbukti diperkirakan mencapai 145 miliar barel.
Mayoritas minyak Irak diekspor melalui Selat Hormuz, jalur penting yang mulai dibuka seusai dicapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran setelah tertutup selama perang. (Wahyu Dwi Anggoro)