sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Kabut Asap Karhutla Ganggu Penerbangan, INACA Beberkan Kerugian Operasional Maskapai

News editor Rohman Wibowo
06/09/2026 05:32 WIB
Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Kalimantan hingga Papua mulai mengganggu operasional industri penerbangan nasional
Kabut Asap Karhutla Ganggu Penerbangan, INACA Beberkan Kerugian Operasional Maskapai (FOTO:iNews Media Group)
Kabut Asap Karhutla Ganggu Penerbangan, INACA Beberkan Kerugian Operasional Maskapai (FOTO:iNews Media Group)

Pada pembatalan penerbangan di Singkawang per 16 Agustus lalu, tercatat ratusan penumpang terdampak, masing-masing 174 penumpang berangkat dan 153 penumpang datang pada TransNusa, serta 180 penumpang berangkat dan 87 penumpang datang pada Super Air Jet yang diberikan opsi pengembalian dana penuh atau penjadwalan ulang gratis selama tujuh hari. 

Selain Kalimantan Barat, pekatnya asap juga mengganggu penerbangan NAM Air di Bandara Iskandar Pangkalan Bun serta rute Wings Air Timika-Nabire di Papua yang tertunda karena jarak pandang hanya mencapai 2,6 kilometer dari batas minimum pilot sebesar 5 kilometer.

"Kualitas udara di Palangka Raya bahkan sempat menyentuh indeks berbahaya atau AQI 487 yang memperparah keterlambatan di Pangkalan Bun, begitu pula rute perintis di Nabire. Keterlambatan penerbangan rata-rata berlangsung 1–2 jam, dan kondisi paling parah terjadi pada pukul 06.00 hingga 08.00 WIB saat jarak pandang anjlok di kisaran 1.000 meter," ujar Bayu.

INACA memperingatkan bahwa berlanjutnya sebaran asap karhutla berpotensi menimbulkan efek domino yang merusak rotasi pesawat secara berantai ke berbagai destinasi. Kondisi ini turut memicu pembengkakan biaya operasional maskapai akibat konsumsi avtur tambahan saat pesawat tertahan di udara biaya pendaratan alternatif, hingga penyediaan kompensasi akomodasi bagi calon penumpang.

"Potensi gangguannya sangat besar karena delay di pagi hari akan menumpuk ke rotasi pesawat siang atau sore, di mana satu pesawat terlambat bisa berimbas ke 3–4 rute berikutnya. Jika jarak pandang terus bertahan di level 1.000–2.000 meter, risiko pembatalan massal meningkat, biaya bahan bakar serta refund membengkak, dan keterisian penumpang di rute-rute tipis seperti Singkawang-Jakarta akan terpukul berat," kata Bayu.

(kunthi fahmar sandy)

Halaman : 1 2 Lihat Semua
Advertisement
Advertisement