Nilai TKDN produk yang telah tersertifikasi berada pada rentang 44,28 persen hingga 95,03 persen, sementara Bobot Manfaat Perusahaan mencapai nilai maksimal 15 persen.
Direktur Utama PT Bio Farma Evi Sylvia penguatan produksi dalam negeri bagi industri farmasi bukan hanya mengenai seberapa besar produk dapat dibuat di dalam negeri, tetapi juga mengenai kemampuan membangun kapabilitas dari hulu hingga hilir.
"Dengan penguasaan teknologi, peningkatan TKDN, serta penerapan standar mutu dan halal, produk yang dihasilkan dapat memenuhi kebutuhan nasional sekaligus memiliki daya saing di pasar global,” ujar Evi.
Evi juga menuturkan, aspek halal juga menjadi bagian penting dalam pengembangan produk farmasi dan vaksin di Indonesia. Bio Farma menyatakan komitmen untuk mengembangkan dan memproduksi produk vaksin dan life science yang halal sesuai ketentuan syariat Islam, sekaligus menerapkan Sistem Jaminan Produk Halal (SJPH).
Dari sektor industri barang konsumsi, penguatan produk dalam negeri juga perlu diikuti kemampuan pelaku usaha dalam memahami kebutuhan konsumen, menjaga kualitas, dan membangun jenama yang relevan.
CEO & Co-Founder Torch, Ben Wirawan, menilai penggunaan bahan baku lokal perlu ditempatkan dalam kerangka pengembangan produk secara menyeluruh agar kualitas tetap terjaga dan harga dapat diterima pasar.
"Bahan baku lokal harus menjadi bagian dari strategi produk, bukan sekadar menjadi pilihan sumber material. Kualitas, desain, efisiensi biaya, pengembangan produk, dan kemampuan membaca kebutuhan konsumen perlu berjalan bersama. Dengan begitu, produk lokal dapat memiliki nilai yang kuat sekaligus tetap kompetitif di pasar," kata Ben.
(Nur Ichsan Yuniarto)