“Kemitraan ini merupakan kelanjutan dari Tim Ekspedisi Patriot 2025, dan pada 2026 kemitraan ini bertambah dengan Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, dan Universitas Hasanuddin,” kata Qodari.
Perguruan tinggi mitra, Qodari menjelaskan, membantu verifikasi administrasi, seleksi, dan dukungan akademik bagi para peserta Tim Ekspedisi Patriot sebelum diberangkatkan.
Kolaborasi tersebut berlanjut selama masa penugasan. Setiap kampus bertanggung jawab mendampingi kawasan yang menjadi lokasi risetnya, seperti Universitas Indonesia di Werianggi–Werabur dan Institut Teknologi Bandung di Lereh, Papua.
Program ini diharapkan mampu menjadikan kawasan transmigrasi sebagai laboratorium riset terapan yang menghasilkan rekomendasi kebijakan nyata untuk perencanaan, pembangunan, dan pengembangan kawasan yang diawasi langsung oleh akademisi.
Untuk 10 kawasan transmigrasi di Papua, negara memastikan penguatan pendampingan melalui penambahan jumlah tim yang diturunkan.