“Berdasar data pengguna, kebutuhan masyarakat terhadap transportasi publik tidak berhenti pada perjalanan berangkat dan pulang kerja. Ada yang menggunakan LRT untuk melanjutkan perjalanan dengan moda lain, menuju pusat kegiatan, maupun melakukan aktivitas pada akhir pekan. Karena itu, perhatian utama bukan hanya jumlah pengguna, tetapi bagaimana perjalanan mereka bisa berlangsung dengan lebih mudah dan nyaman,” ujar Radhitya.
Bagi masyarakat, keberadaan stasiun yang terhubung dengan moda lain juga menjadi bagian penting dalam perjalanan. Sebab, perjalanan tidak selalu selesai ketika pengguna keluar dari kereta. Koneksi dengan moda transportasi lain maupun layanan lanjutan membuat LRT Jabodebek dapat menjadi bagian dari satu rangkaian perjalanan menuju tujuan akhir.
Stasiun Dukuh Atas Bank Syariah Indonesia, misalnya, menjadi salah satu simpul perpindahan antarmoda karena terhubung dengan Commuter Line, KA Bandara, MRT Jakarta, dan TransJakarta.
Di stasiun Cikoko, pengguna dapat melanjutkan perjalanan melalui koneksi dengan Commuter Line dan Transjakarta, sementara Stasiun Halim terhubung langsung dengan layanan kereta cepat Whoosh untuk menuju Bandung. LRT Jabodebek juga memiliki konektivitas dengan berbagai layanan pengumpan di sejumlah stasiun untuk mendukung perjalanan dari dan menuju kawasan sekitar.
“Pertumbuhan pengguna tentu menjadi hal positif, tetapi yang lebih penting adalah memastikan LRT Jabodebek tetap relevan dengan kebutuhan perjalanan masyarakat yang terus berkembang,” kata Radhitya.
(Dhera Arizona)