“Nah kayak contohnya kami tadi punya total di Transjakarta ada 150, itu jumlah yang telah menaiki Transjakarta itu udah sampai 10 juta di dalam waktu 2 tahunan. Nah, jadi ini merupakan suatu yang bisa dipakai massal, menghemat juga BBM, dan juga membantu, tentunya, dekarbonisasi atau untuk kepentingan lingkungan hidup,” kata Anindya.
"Nah, yang penting di sini adalah bagaimana kami adalah salah satu daripada perusahaan yang fokus di bidang bus dan truk listrik, kebetulan yang pertama. Tetapi dalam kita berkembang kita selalu berkembang bersama teman-teman di ekosistem. Itulah alasan kenapa kita memulainya di Magelang,” katanya.
Dia juga menekankan bahwa perusahaannya fokus pada pengembangan bus dan truk listrik sebagai bagian dari ekosistem kendaraan berbasis energi bersih di Indonesia. Magelang dipilih sebagai lokasi pengembangan karena dinilai strategis dalam mendukung pertumbuhan industri ini.
Lebih lanjut, Anindya menyebut bahwa tingkat komponen dalam negeri (TKDN) telah mencapai 40 persen pada tahun lalu dan ditargetkan mendekati 60 persen pada tahun ini, dengan melibatkan berbagai komponen lokal serta kolaborasi dengan mitra industri.
“Pesan pentingnya adalah untuk teman-teman yang industri komponen, satu lagi saya lupa bicara bahwa tahun lalu kita sudah mencapai TKDN 40 persen, tahun ini mudah-mudahan mendekati 60 persen. Dan ini semua dengan komponen-komponen lokal. Ada yang kita buat sendiri, ada yang juga bekerjasama dengan yang lain,” kata Anindya
“Jadi buat teman-teman yang di industri bus sama truk atau kendaraan komersil mudah-mudahan kita bisa sama-sama bangkit memanfaatkan di tengah ya perekonomian sangat-sangat penuh tantangan. Ada perang yang sangat besar kita nggak tahu berapa lama selesainya tapi kita jangan justru lemah atau lengah, justru kita berpikir bagaimana bisa menggunakan ini untuk suatu yang bernilai tambah,” kata dia.
(Nur Ichsan Yuniarto)