Selain memperbaiki rekrutmen dan pendidikan guru, Presiden menempatkan digitalisasi ruang kelas sebagai salah satu langkah percepatan untuk mengurangi kesenjangan kualitas pendidikan.
Melalui fasilitas pembelajaran digital, guru dapat meningkatkan kemampuan mengajar, sementara siswa memperoleh materi yang lebih menarik dan mudah dipahami. Pembelajaran digital juga diharapkan membantu sekolah yang masih kekurangan tenaga pengajar berkualitas.
“Karena itulah saya mau lompat. Ini kesulitan, makanya saya taruh digitalisasi kelas-kelas itu semua, supaya nanti guru-guru yang kurang mampu bisa juga belajar dari situ. Dan anak-anak yang kurang mampu, tertarik belajar dari situ. Berhitung, aritmatika, dan sebagainya. Ini salah satu langkah saya untuk lompat,” kata Prabowo.
Meski demikian, Prabowo mengingatkan bahwa digitalisasi tidak dapat menggantikan peran guru. Menurutnya, perbaikan mendasar pendidikan tetap harus dilakukan melalui rekrutmen yang objektif dan pendidikan guru yang berkualitas.
“Tetapi di ujungnya, perbaikan yang sebenarnya hanya dengan rekrutmen dan pendidikan guru. Hanya dengan itu,” katanya.
Kemudian, Prabowo juga mengungkapkan sedang mendesain rencana program percepatan dengan merekrut lulusan perguruan tinggi terbaik dari berbagai disiplin ilmu untuk membantu sekolah-sekolah yang paling tertinggal.
“Salah satu langkah yang sedang saya pikirkan untuk mengatasi masalah ini adalah crash program, mungkin saya akan rekrut sarjana-sarjana dari semua fakultas yang terbaik untuk menjadi guru-guru. Katakanlah guru-guru darurat yang kita terjunkan ke sekolah,” kata Prabowo.
“Umpamanya kita punya 300 ribu sekolah. Ya, mungkin kita mulai dari SD dulu, kita rekrut mungkin 30 ribu sarjana. Kita terjunkan ke sekolah-sekolah yang paling ketinggalan untuk crash program,” sambungnya.