Proses awal pengolahan adalah dengan mencacah setiap limbah HPL menjadi potongan kecil yang kemudian dipadatkan dan dicampur dengan batok kelapa sawit serta bahan lainnya yang akan dipadatkan dan menjadi bahan bakar bagi boiler.
“Dari proses produksi ada potongan pinggir-pinggirannya,ada pemotongan, ada sanding dust, atau cutting dust, itu kita ubah menjadi potongan kecil, jadi mirip seperti biomassa,” ucap dia.
Dengan cara tersebut, TACO berhasil menghindari ribuan ton CO2eq emisi per tahun serta mengoptimalkan penggunaan energi nonfosil hingga 99,8 persen untuk kebutuhan utilitas produksinya sendiri.
Bahkan, mereka melakukan investasi besar pada fasilitas boiler yang didesain khusus agar mampu menyerap 100 persen bahan bakar nonfosil.
“Kita bisa sampaikan sudah sampai 99,8 persen; boiler sudah 100 persen; kita tidak pernah pakai batu bara. Walaupun bisa pakai batu bara, kita tambahin lagi dia harus bisa menyerap bahan bakar ekstra yang tadi potongan-potongan (limbah HPL),” jelas Wisnu.