Menurut Masyhud, lonjakan penumpang yang terpusat dalam periode tertentu dapat menyebabkan antrean panjang, waktu tunggu lebih lama, serta menurunkan kenyamanan perjalanan.
“Diperlukan perencanaan perjalanan yang matang dan kesadaran bersama agar arus balik Lebaran 2026 dapat berjalan aman, lancar, dan nyaman bagi seluruh pengguna jasa angkutan laut dan penyeberangan,” katanya.
Pemerintah, kata dia, terus berupaya mengoptimalkan pelayanan di lintasan Jawa–Bali, termasuk melalui penambahan armada kapal serta pengaturan operasional untuk mengantisipasi lonjakan pergerakan.
Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk memanfaatkan layanan informasi resmi terkait kondisi pelabuhan dan penyeberangan, melakukan pembelian tiket secara daring, serta mengikuti arahan petugas di lapangan.
Sebelumnya, PT ASDP Indonesia Ferry memprediksi puncak arus balik di lintasan Jawa–Bali akan terkonsentrasi pada 26–29 Maret 2026, dengan potensi lonjakan volume kendaraan dan penumpang dari Pelabuhan Ketapang menuju Gilimanuk.
(Dhera Arizona)