“Kami tidak ingin membekukan konflik ini dan kembali mengulangi ini beberapa bulan kemudian," katanya.
“Dunia saat ini, hanya dengan satu selat yang terdampak seperti ini, menghadapi masalah inflasi, masalah keamanan energi, masalah keamanan pangan. Kita menghadapi bencana industri jika ini terus berlanjut," ujarnya.
Selat Hormuz dilewati seperlima ekspor minyak dan gas global saat masa damai. Jalur itu juga dilalui komoditas penting lainnya, termasuk pupuk dan produk petrokimia. (Wahyu Dwi Anggoro)