IDXChannel - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mempertimbangkan untuk mengakhiri operasi militer di Iran tanpa membuka Selat Hormuz.
Dilansir dari Wall Street Journal (WSJ) pada Selasa (31/3/2026), beberapa sumber mengatakan bahwa Trump menyampaikan hal tersebut kepada sejumlah bawahannya.
Menurut para sumber, Trump dan sejumlah bawahannya merasa upaya untuk membuka Selat Hormuz akan memakan waktu lama. Sebelumnya, AS menargetkan operasi militer di Iran akan berakhir dalam 4-6 pekan.
Trump dikabarkan lebih fokus untuk melumpuhkan angkatan laut Iran dan menghancurkan stok rudal Negeri Mullah tersebut, sembari menekan Teheran secara diplomatik untuk membuka Selat Hormuz.
Jika tekanan itu gagal, Washington akan mendesak sekutunya di Eropa dan Teluk untuk memimpin pembukaan kembali selat tersebut.
Opsi pengerahan militer AS untuk membuka Selat Hormuz tidak sepenuhnya dihapus, namun saat ini tidak menjadi prioritas.
Sepanjang bulan ini, Trump memberikan pernyataan yang bertolak belakang tentang Selat Hormuz. Ia sempat mengancam akan membom infrastruktur energi sipil Iran jika jalur maritim tersebut tidak dibuka kembali pada tanggal tertentu. Di kesempatan lain, ia meremehkan pentingnya selat tersebut bagi AS dan mengatakan penutupannya adalah masalah yang harus diselesaikan oleh negara lain.
Baru-baru ini, USS Tripoli dan Unit Ekspedisi Marinir ke-31 tiba di Timur Tengah. Trump juga mengerahkan Divisi Lintas Udara ke-82 dan sedang mempertimbangkan untuk mengirimkan 10.000 pasukan darat tambahan ke Timur Tengah.
Semakin lama selat tersebut tetap tertutup, semakin besar dampaknya terhadap ekonomi global dan semakin tinggi harga bahan bakar minyak (BBM).
Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia diekspor melalui selat tersebut. Sekitar 84 persen minyak mentah dan 83 persen gas alam cair yang dikirim melalui selat tersebut ditujukan untuk pasar Asia.
Iran secara efektif memblokade Selat Hormuz dengan ancaman rudal, drone, dan ranjau. Teheran saat ini mempertimbangkan untuk mengenakan tarif tol kepada kapal yang melintasi selat itu dengan aman.
Perang antara Iran dengan AS dan Israel pecah pada 28 Februari, setelah Washington dan Tel Aviv melancarkan serangan udara ke Negeri Mullah tersebut. (Wahyu Dwi Anggoro)