AALI
9975
ABBA
400
ABDA
0
ABMM
1450
ACES
1305
ACST
230
ACST-R
0
ADES
2950
ADHI
1025
ADMF
7700
ADMG
210
ADRO
1700
AGAR
340
AGII
1600
AGRO
2130
AGRO-R
0
AGRS
177
AHAP
65
AIMS
486
AIMS-W
0
AISA
208
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
860
AKRA
3970
AKSI
416
ALDO
1020
ALKA
244
ALMI
246
ALTO
280
Market Watch
Last updated : 2021/11/30 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
497.28
-2.19%
-11.12
IHSG
6533.93
-1.13%
-74.36
LQ45
930.98
-2.07%
-19.70
HSI
-74.94
-100.31%
-23927.18
N225
346.43
-98.78%
-27937.49
NYSE
59.11
-99.64%
-16565.76
Kurs
HKD/IDR 1,834
USD/IDR 14,318
Emas
825,609 / gram

Dubai Expo 2021, Produk One Pesantren One Product Jabar Unjuk Potensi

SYARIAH
Agung bakti sarasa
Senin, 01 November 2021 13:30 WIB
Produk dari hasil polesan program OPOP (One Pesantren One Product) asal Jabar unjuk potensi di Dubai Expo 2021.
Dubai Expo 2021, Produk One Pesantren One Product Jabar Unjuk Potensi (Dok.MNC Media)
Dubai Expo 2021, Produk One Pesantren One Product Jabar Unjuk Potensi (Dok.MNC Media)

IDXChannel - Produk-produk asal Jawa Barat menjadi produk yang paling besar mendapatkan perhatian pengunjung di ajang Dubai Expo 2021. Di antaranya adalah sejumlah produk dari hasil polesan program OPOP (One Pesantren One Product). 

"Jabar memiliki potensi sangat besar, di mana kualitas produk-produk kami dapat bersaing di kancah internasional. Expo 2020 Dubai merupakan tempat strategis dan kami akan terus mendorong produk-produk Jabar agar dikenal di pasar global," ujar Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jabar, Atalia Praratya Ridwan Kamil dalam keterangannya, Senin (1/11/2021). 

Potensi perdagangan yang turut ditampilkan dalam pameran di Dubai ini adalah produk hasil polesan program OPOP (One Pesantren One Product). Program ini merupakan program kemandirian ekonomi berbasis pesantren. 

OPOP sendiri didirikan untuk menciptakan kemandirian umat melalui para santri, masyarakat, dan pondok pesantren itu sendiri, agar mampu mandiri secara ekonomi, dan sosial. Selain itu, untuk memacu pengembangan keterampilan, teknologi produksi, distribusi, pemasaran melalui sebuah pendekatan inovatif dan strategis dari Pemprov Jabar bersama Dinas KUKM Provinsi Jabar. 

Sejak 2019, terdapat 1.574 pesantren dari 27 kota/kabupaten Jabar yang telah mengikuti program OPOP. Aneka bidang usaha yang ditekuni, mulai dari perikanan, pertanian, perdagangan, fesyen dan konveksi, makanan dan minuman, serta jasa pelayanan. Produk-produk tersebut dikemas dengan menarik dan telah dipasarkan melalui tokon online. 

Dampak inovasi dari program OPOP sendiri telah membuat peningkatan omzet unit usaha pesantren sebesar 133 persen. Transaksi penjualan dalam satu kali kegiatan temu bisnis juga meningkat hingga Rp21 juta. Demikian pula jumlah produk yang dihasilkan naik dari 250 menjadi 500 produk. 

Jumlah pesantren yang memiliki produk juga meningkat dari 250 unit usaha pesantren menjadi 500 unit usaha. Di sisi lain, rata-rata tenaga kerja yang terserap juga meningkat menjadi empat orang. Saat ini, terdapat minimal 20 pesantren yang terseleksi melaksanakan pra koperasi untuk pembentukan badan hukum koperasi tingkat provinsi.

"Program OPOP tidak hanya mendorong pesantren agar punya kemandirian ekonomi, tetapi sekaligus dapat membuka peluang lapangan kerja bagi masyarakat sekitar lingkungan pesantren," ujar Ustaz Peri Risnandar, pelaku OPOP dari Pesantren Daarut Tauhid. 

Selain memamerkan potensi produk halal, termasuk produk OPOP di industri fesyen dan dekorasi, Pemprov Jabar juga memamerkan potensi wisata, seperti Tangkubanparahu dan wisata sawah berundak di Majalengka kepada calon investor yang hadir dari berbagai negara di Timur Tengah, seperti dari Uni Emirat Arab dan Qatar. 

Lebih lanjut Atalia mengungkap perkembangan industri fesyen Jabar tidak lepas dari industri kreatif yang sangat baik yang dikembangkan. Dengan jumlah populasi mencapai hampir 50 juta jiwa dan sebagai salah satu daerah percontohan industri kreatif, Jabar pun tidak pernah berhenti memproduksi produk-produk dekorasi rumah serta fesyen yang sering menjadi tren di kalangan anak muda termasuk produk halal fesyen.

"Produk seperti batik asli Jabar batik megamendung, garutan, cianjur bahkan batik tasik yang menonjolkan penggunaan warna cerah turut serta dipamerkan di area rolling exhibition di Paviliun Indonesia," katanya. 

Produk lain yang menarik perhatian pengunjung adalah produk fesyen kekinian, seperti jaket berbahan jins serta sepatu kulit ramah lingkungan yang dibawa oleh salah satu merek asal Jawa Barat. 

"Selama tujuh hari dipamerkan, sangat banyak ketertarikan pengunjung untuk mencoba produk tersebut. Produk dekorasi rumah seperti wayang, tempat makan yang terbuat dari bambu juga paling banyak ditanyakan pengunjung," katanya. 

(IND) 

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD