Menurutnya, ibadah sunnah seperti umrah berulang kali maupun thawaf tambahan sebaiknya dilakukan secara proporsional dan disesuaikan dengan kemampuan fisik masing-masing.
“Umrah sewajarnya saja, thawaf juga secukupnya. Jangan sampai memforsir tenaga hanya karena ingin sebanyak-banyaknya ibadah sunnah, sementara tenaga itu sangat dibutuhkan saat Armuzna,” ujar Ni’am.
Ia menekankan bahwa menjaga kesehatan juga bagian dari ikhtiar ibadah. Terlebih, rangkaian puncak haji membutuhkan kondisi fisik yang prima karena jamaah akan menjalani mobilitas tinggi di tengah suhu panas Arab Saudi.
Hal senada disampaikan Abdullah Kafabihi Mahrus. Menurutnya, esensi utama ibadah haji adalah wukuf di Arafah sehingga seluruh persiapan jamaah sebaiknya diarahkan untuk menghadapi momentum tersebut.
“Jadi kita harus ada persiapan matang, baik kesehatan maupun finansial. Sebelum haji itu jangan belanja-belanja, jangan memforsir umrah-umrah. Jaga kesehatan karena haji itu intinya adalah Arafah, Al-Hajju Arafah,” kata Kiai Kafabihi.