“Bukhara memiliki seni arsitektur yang berumur lebih dari 1.000 tahun. Selain itu, kebanggaan Bukhara ada pada tradisi keilmuan. Madrasah-madrasah di Bukhara banyak mendidik ulama lokal dan mancanegara,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi perhatian masyarakat Indonesia terhadap Uzbekistan dan warisan keilmuan Islam yang berkembang di wilayah tersebut.
Menhaj mengatakan, kekayaan sejarah dan tradisi keilmuan tersebut membuka ruang kerja sama yang luas. Indonesia dan Uzbekistan dapat saling memperkuat dalam membangun ekosistem wisata religi yang tidak hanya menghadirkan perjalanan spiritual, tetapi juga memperkenalkan sejarah, ilmu pengetahuan, dan warisan peradaban Islam kepada masyarakat kedua negara.
“Hubungan Indonesia dan Uzbekistan memiliki modal yang sangat kuat. Kita memiliki kedekatan sejarah, keagamaan, dan budaya. Ini menjadi fondasi yang baik untuk memperluas kerja sama ke depan,” kata Menhaj.
Pertemuan di Bukhara menjadi bagian dari upaya Kementerian Haji dan Umrah memperkuat jejaring kerja sama internasional. Melalui kolaborasi tersebut, hubungan Indonesia-Uzbekistan diharapkan tidak berhenti pada hubungan diplomatik, tetapi berkembang menjadi kerja sama yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat kedua negara.
(kunthi fahmar sandy)