Bolehkah Puasa Ikut Muhammadiyah tapi Lebaran Ikut NU?
Dalam perspektif fiqih yang dikutip dari berbagai sumber, pada dasarnya tidak ada larangan mutlak bagi seseorang untuk mengikuti keputusan yang berbeda, selama keputusan tersebut berasal dari otoritas keagamaan yang memiliki dasar ilmiah dan syar'i.
Namun, para ulama umumnya menyarankan agar umat Islam konsisten mengikuti satu metode atau satu keputusan sejak awal hingga akhir Ramadhan. Hal ini bertujuan untuk menjaga keteraturan ibadah dan memastikan jumlah hari puasa tetap sesuai dengan ketentuan syariat, yaitu 29 atau 30 hari.
Perbedaan penentuan awal puasa dan Hari Raya Idulfitri antara Muhammadiyah dan NU merupakan bagian dari dinamika ijtihad dalam Islam. Oleh karena itu, umat Islam tidak perlu memperdebatkannya secara berlebihan.
Hal yang lebih penting adalah menjalankan ibadah dengan niat yang tulus, mengikuti panduan ulama atau otoritas yang dipercaya, serta menjaga sikap saling menghormati di tengah perbedaan.
(Shifa Nurhaliza Putri)