AALI
10025
ABBA
406
ABDA
0
ABMM
1535
ACES
1415
ACST
272
ACST-R
0
ADES
2570
ADHI
1155
ADMF
7950
ADMG
234
ADRO
1735
AGAR
350
AGII
1470
AGRO
2020
AGRO-R
0
AGRS
210
AHAP
65
AIMS
500
AIMS-W
0
AISA
232
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
795
AKRA
4660
AKSI
458
ALDO
720
ALKA
250
ALMI
238
ALTO
300
Market Watch
Last updated : 2021/10/22 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
516.22
0.19%
+0.98
IHSG
6643.74
0.16%
+10.77
LQ45
970.79
0.27%
+2.64
HSI
26126.93
0.42%
+109.40
N225
28804.85
0.34%
+96.27
NYSE
17132.22
0.29%
+49.07
Kurs
HKD/IDR 1,814
USD/IDR 14,120
Emas
813,779 / gram

RI Jadi Presidensi G20, Ketum Muhammadiyah: Bangun Optimisme Peranan di Kancah Global

SYARIAH
Muhammad Refi Sandi/MPI
Senin, 15 November 2021 19:58 WIB
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir mengatakan mengucapkan Indonesia yang telah memperoleh mandat Presidensi G20.
RI Jadi Presidensi G20, Ketum Muhammadiyah: Bangun Optimisme Peranan di Kancah Global (Dok: Muhammadiyah)
RI Jadi Presidensi G20, Ketum Muhammadiyah: Bangun Optimisme Peranan di Kancah Global (Dok: Muhammadiyah)

IDXChannel - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir mengatakan mengucapkan selamat kepada Indonesia yang telah memperoleh mandat memimpin Presidensi G20 untuk satu tahun ke depan. 

"Capaian ini sangat positif dan konstruktif bagi usaha membangun optimisme pasca Covid-19. Kepemimpinan Indonesia pada Presidensi G20 juga membangun optimisme untuk berperan di kancah global," ujarnya.

Haedar ingin Indonesia dapat memanfaatkan Presidensi G20 untuk penguatan dan mobilisasi kekuatan domestik di dalam negeri terkait peranan di kancah global. 

Indonesia, lanjut Haedar juga perlu memainkan peran yang signifikan dalam dunia internasional, baik di tingkat regional maupun global.

"Di mana dulu kita punya peran sejarah yang penting ketika kita berada di lingkaran negara-negara non blok, saat itu di bawah kepemipinan Soekarno kita punya peran sangat besar. Saya pikir peluang itu bisa dimanfaatkan oleh pemerintah dan bangsa Indonesia," tuturnya.

Lebih lanjut, Haedar menilai proses kematian demokrasi di tangan kekuatan sipil yang dibangun di atas oligarki ini ditandai dengan adanya demokrasi semu yang membawa pada proses ekstremitas.

"Ya saya pikir isu yang terakhir di Indonesia soal Permendikbud itu bagian dari ekstremitas demokrasi dan hak asasi manusia, jika tak dikelola dengan baik itu akan menjadi problem baru," jelasnya.

"Ternyata kekuatan-kekuatan sipil tak kalah otoriternya dengan kekuatan militer ketika dia dibagun di atas oligarki. Oligarki ekonomi, oligarki politik, bahkan saya menambahkan satu istilah, oligarki keagamaan, di mana ada kelompok-kelompok agama yang merasa paling berkuasa di negara di mana agama itu hidup. Ini bisa jadi proses kematian demokrasi," tandasnya.

Sebagai informasi, banyak ahli menyebut pada 2030 mendatang Indonesia bakal jadi negara dengan perekonomian terbesar setelah Tiongkok, Amerika Serikat, dan India. Prediksi ini tak perlu disambut dengan euforia, tetapi harus ditindaklanjuti dengan konsolidasi berbagai isu global yang mau tak mau berkaitan dengan pernanan Indonesia di kancah internasional.

Beberapa isu global yang muncul saat ini yakni recovery pasca pandemi Covid-19. Kemudian isu demokrasi, baik di tingkatan regional maupun domestik (dalam negeri). Lalu isu globalisasi dalam hal ini terkait dengan rezim World Trade Organization (WTO) yang nantinya berdampak besar pada relasi antarnegara. Selanjutnya adalah isu revolusi saintifik berkaitan dengan disrupsi dan digitalisasi, SDGs, serta isu perubahan iklim.

(IND) 

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD