AALI
9475
ABBA
0
ABDA
7050
ABMM
785
ACES
1455
ACST
282
ACST-R
0
ADES
1670
ADHI
1100
ADMF
8175
ADMG
164
ADRO
1170
AGAR
430
AGII
1080
AGRO
1000
AGRO-R
0
AGRS
302
AHAP
74
AIMS
456
AIMS-W
0
AISA
294
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
496
AKRA
3110
AKSI
800
ALDO
840
ALKA
246
ALMI
250
ALTO
302
Market Watch
Last updated : 2021/04/22 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
476.24
0.22%
+1.05
IHSG
5994.18
0.02%
+0.94
LQ45
893.96
0.13%
+1.17
HSI
28755.34
0.47%
+133.42
N225
29188.17
2.38%
+679.62
NYSE
0.00
-100%
-15944.61
Kurs
HKD/IDR 1,869
USD/IDR 14,515
Emas
835,643 / gram

Sejak 1991, Industri Bank Syariah di RI Stagnan

SYARIAH
Shelma Rachmahyanti/Sindo
Kamis, 18 Maret 2021 07:55 WIB
Hampir tiga dekade atau sejak industri perbankan syariah ada di Indonesia, industri ini tidak berkembang signifikan.
Sejak 1991, Industri Bank Syariah di RI Stagnan (FOTO: MNC Media)

IDXChannel - Hampir tiga dekade atau sejak industri perbankan syariah ada di Indonesia, industri ini tidak berkembang signifikan bahkan relatif stagnan.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Abra Talattov menilai, perkembangan industri bank syariah di Indonesia relatif stagnan. Dengan hadirnya Bank Syariah Indonesia (BSI) yang merupakan penggabungan tiga bank syariah BUMN, diharapkan dapat mengakselerasi pertumbuhan bank syariah atau industri bank syariah di Indonesia.

“Selama ini walaupun industri bank syariah kita sudah berjalan hampir tiga dekade sejak tahun 1991, tapi memang perkembangannya relatif stagnan. Jadi, dari sisi pangsa pasar atau market share awalnya kita terjebak di market share 5 persen, jadi di tahun 2017 kita masih 5,7 persen. Kemudian dalam 3, 4 tahun terakhir meningkat tapi peningkatannya juga tidak signifikan. Terakhir di Desember tahun lalu market share bank syariah kita baru di level sekitar 6,3 persen,” katanya dalam acara Bincang Aspirasi Rakyat, Rabu (17/3/2021).

Abra menjelaskan, kapasitas yang dimiliki bank syariah masih rendah. Oleh karena itu, ketika ingin memperluas atau memperbesar market share daya saing bank syariah juga harus semakin baik.

“Tantangannya kita menghadapi bank-bank lain yang dari sisi permodalan itu sangat besar. Makanya kalau kita business as usual hanya mengandalkan bank syariah yang existing sebelumnya termasuk bank syariah BUMN dengan bisnis masing-masing bahkan antar mereka pun saling bersaing dan persaingannya justru di intra bank syariah bukan bank syariah dengan bank konvensional, jadi itu justru akan memperlambat pencapaian market share bank syariah,” jelas dia.

Lanjutnya, pemerintah dan otoritas menargetkan market share bank syariah Indonesia itu bisa mencapai 20%. Hal ini karena market share di beberapa negara sudah di atas 15% dan Indonesia masih jauh tertinggal.

“Ada 11 negara di dunia ini yang market share bank syariahnya itu udah di atas 15%, kita masih jauh tertinggal. Bahkan Malaysia saja itu market share bank syariahnya sudah 27%,” ujar Abra.

“Padahal kan kalau dari sisi populasi muslim kan kita jauh lebih besar ya? Tetapi kenapa kita justru malah tertinggal dibanding negara lain, khususnya Malaysia. Maka dari itu pemerintah mengambil langkah perlu ada akselerasi, nah salah satunya dengan melakukan konsolidasi bank syariah BUMN,” tambah dia.

Sementara itu, kata dia, dengan penggabungan tiga bank syariah akhirnya bisa terbentuk raksasa bank syariah di Indonesia.

“Ini kalau saya analogikan sebagai raksasa tidur, jadi sebenarnya bank syariah kita raksasa tetapi tidur, tidak dibangunkan. Maka dari itu dengan adanya konsolidasi ini terbentuk lah raksasa bank syariah sehingga BSI ini bisa masuk langsung menerobos ke peringkat ke-7 dari sisi aset,” ucap Abra. (RAMA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD