Adapun momen yang paling mendorong penggunaan pembayaran digital selama Ramadan adalah membeli baju Lebaran 49 persen dan memanfaatkan flash sale atau promo marketplace 49 persen.
Selain itu, pembayaran digital juga banyak digunakan untuk membeli kebutuhan sahur dan berbuka 30 persen, membeli hampers Lebaran 29 persen, membayar tagihan sebelum Lebaran 29 persen, membeli tiket mudik 22 persen, zakat atau donasi online 21 persen, hingga membagikan THR 13 persen .
Menariknya, penggunaan pembayaran digital dinilai tidak selalu membuat masyarakat lebih konsumtif. Sebanyak 60 persen responden mengaku pembayaran digital justru membantu mengontrol pengeluaran, sedangkan hanya 17 persen yang merasa menjadi lebih boros.
Survei juga mencatat perubahan dalam pengelolaan Tunjangan Hari Raya THR. Sebanyak 30 persen responden menyimpan THR di bank konvensional, 29 persen di bank digital, 27 persen mengalokasikannya ke e-wallet, 24 persen membagikannya dalam bentuk tunai, 21 persen langsung digunakan untuk berbelanja, dan 18 persen diinvestasikan.
Produk syariah yang paling dikenal masyarakat adalah tabungan syariah 63 persen, diikuti e-wallet atau fintech syariah 38 persen, Pegadaian Syariah 35 persen, reksa dana syariah 29 persen, dan deposito syariah 23 persen.
Namun dari sisi penggunaan, tabungan syariah masih menjadi yang paling banyak dimanfaatkan dengan tingkat penggunaan 32 persen, disusul e-wallet syariah 26 persen, reksa dana syariah 10 persen, serta Pegadaian Syariah 9 persen .
“Ke depan, prospek pertumbuhan industri dinilai masih terbuka. Survei menunjukkan 51 persen responden berencana menggunakan atau menambah produk keuangan syariah dalam enam bulan mendatang. Dari jumlah tersebut, 64 persen memilih menambah layanan syariah tanpa meninggalkan layanan keuangan yang telah digunakan, sedangkan 24 persen berencana beralih dari bank konvensional dan 6 persen dari fintech konvensional,” jelasnya.
(Shifa Nurhaliza Putri)